Monday, October 2, 2017

LAPORAN PRAKTIKUM

MK.PRODUKSI TERNAK POTONG dan KERJA




Oleh ;

ABDURRAHMAN

E1C013101




Jurusan Peternakan – Fakultas Pertanian
Universitas Bengkulu
Oktober 2014

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadiratan kita ucapkan kepada Allah SWT atas nikmat dan karunianya sehingga saya dapat menyelesaikan laporan ini adalah bukti atau hasil dari praktikum yang kami laksanakan selama 10 hari. Harapan saya sebagai mahasiswa peternakan dengan adanya laporan ini saya dapat lebih mengetahui tentang peternakan khususnya di manejemen produksi ternak potong yang ada di Indonesia dan dapat melaksanakannya di kehidupan sehari-hari. Shalawat dan salam kita hadiahkan kepada Nabi Muhammad SAW.                       
Laporan pratikum merupakan hasil dari kegiatan yang bersangkutan langsung dengan kegiatan dilapangan agar dapat mengetahui ledih banyak hal tentan objek yang jadi bahan atau simple yang diamati. saya menyadari bahua banyak hal didalam tulisan yang saya buat tidak menggunakan ejaan yang benar, karena ini merupakan proses pembelajaran.                               
Orang bijak mengatakan memang sulit untuk memulai, namun jika sudah mulai kita akan banyak belajar dari pengalaman. Kita harus selalu ingat kepada Allah SWT, dan berdo’a semoga diunjukkan jalan kebenaran dalam menjalankan kehidupan. Dengan kerendahan hati segala hormat, saya mengucapkan banyak beribu terima kasih yang sebesar-besarnya kepada :
1.      Dr.Ir Dwatmadji, M.Sc (Selaku penangggung jawab di mata kuliah manajemen ternak   potong dan kerja) yang telah memberikan fasilitas yang mendukung semua aspek dalam pembuatan laporan ini.
2.      Kedua orang tuaku yang telah melahirkan aku dan senantiasa memberikan dukungan moral dan material untuk pembuatan laporan ini. Saya dedikasikan laporan ini untuk kalian ayah dan ibuku tercinta.
3.      Akbar Edo Saputra, Mory Fortain, Septiyan Arianto, Galih, Enjel R saragih, Yuni Dhuhana, Gilang Ramadan, Anna Riski Wahyuni selaku satu kelompok yang menemaniku dalam suka maupun duka, semangat kawan-kawan.
4.      Teman-teman angkatan 2013 jurusan peternakan yang menjadi kawan seperjuangan.
5.      Adek-adek tingkat semua yang membantu dan mendukung saya selama ini.

       Bengkulu,    Oktober  2014

             ABDURRAHMAN                     E1C013101

DAFTAR ISI

 






BAB I

MATERI DAN METODE


A.1 Jadwal Pelaksanaan dan Daftar Anggota Kelompok

a. Jadwal Pelaksanaan Praktikum

NO.
Hari/Tanggal
Waktu
Kegiatan


06.00-08.00 WIB
Menimbang bobot sapit Pengukuran fisiologi (Respirasi, denyut nadi, suhu rekal), pengukuran berat badan, tinggi badan, panjang badan, lingkar dada, pemberian pakan, minum , membersihkan kandang.
1
Senin/ 15 September 2014
12.00-14.00 WIB
pengukuran lingkungan (temperature udara dan kelembapan), respirasi, denyut nadi, memberi tambahan rumput dan air minum.


16.00-18.00 WIB
Pengukuran fisiologi (Respirasi, denyut nadi), memberi tambahan rumput dan air minum, mencari rumput lapangan


06.00-08.00 WIB
Menimbang sisa pakan, Pengukuran fisiologi (Respirasi, denyut nadi, suhu rekal), pengukuran berat badan, tinggi badan, panjang badan, lingkar dada, pemberian pakan, minum, membersihkan kandang.
2



Selasa/ 16 September 2014




12.00-14.00 WIB
pengukuran lingkungan (temperature udara dan kelembapan), respirasi, denyut nadi, memberi tambahan rumput dan air minum.


16.00-18.00 WIB
Pengukuran fisiologi (Respirasi, denyut nadi), memberi tambahan rumput dan air minum, mencari rumput lapangan


06.00-08.00 WIB
Menimbang sisa pakan, Pengukuran fisiologi (Respirasi, denyut nadi, suhu rekal), pengukuran berat badan, tinggi badan, panjang badan, lingkar dada, pemberian pakan, minum, konsentrat, membersihkan kandang.
3
Rabu/ 17 September 2014
12.00-14.00 WIB
pengukuran lingkungan (temperature udara dan kelembapan), respirasi, denyut nadi, memberi tambahan rumput dan air minum.


16.00-18.00 WIB
Pengukuran fisiologi (Respirasi, denyut nadi), memberi tambahan rumput dan air minum, mencari rumput lapangan,


06.00-08.00 WIB
Menimbang sisa pakan, Pengukuran fisiologi (Respirasi, denyut nadi, suhu rekal), pengukuran berat badan, tinggi badan, panjang badan, lingkar dada, pemberian pakan, minum, konsentrat, membersihkan kandang.
4



Kamis/ 18 September 2014


12.00-14.00 WIB
pengukuran lingkungan (temperature udara dan kelembapan), respirasi, denyut nadi, memberi tambahan rumput dan air minum.


16.00-18.00 WIB
Pengukuran fisiologi (Respirasi, denyut nadi), memberi tambahan rumput dan air minum, mencari rumput lapangan,


06.00-08.00 WIB
Menimbang sisa pakan, Pengukuran fisiologi (Respirasi, denyut nadi, suhu rekal), pengukuran berat badan, tinggi badan, panjang badan, lingkar dada, pemberian pakan, minum, konsentrat, membersihkan kandang.
5
Jum’at/ 19 September 2014
12.00-14.00 WIB
pengukuran lingkungan (temperature udara dan kelembapan), respirasi, denyut nadi, memberi tambahan rumput dan air minum.


16.00-18.00 WIB
Pengukuran fisiologi (Respirasi, denyut nadi), memberi tambahan rumput dan air minum, mencari rumput lapangan,


06.00-08.00 WIB
Menimbang sisa pakan, menimbang  bobot sapi, Pengukuran fisiologi (Respirasi, denyut nadi, suhu rekal), pengukuran berat badan, tinggi badan, panjang badan, lingkar dada, pemberian pakan, minum, konsentrat, membersihkan kandang.
6
Sabtu/ 20 September 2014
12.00-14.00 WIB
pengukuran lingkungan (temperature udara dan kelembapan), respirasi, denyut nadi, memberi tambahan rumput dan air minum.


16.00-18.00 WIB
Pengukuran fisiologi (Respirasi, denyut nadi), memberi tambahan rumput dan air minum, mencari rumput lapangan,


06.00-08.00 WIB
Menimbang sisa pakan, Pengukuran fisiologi (Respirasi, denyut nadi, suhu rekal), pengukuran berat badan, tinggi badan, panjang badan, lingkar dada, pemberian pakan, minum, konsentrat, membersihkan kandang.
7
Senin/ 21 September 2014
12.00-14.00 WIB
pengukuran lingkungan (temperature udara dan kelembapan), respirasi, denyut nadi, memberi tambahan rumput dan air minum.


16.00-18.00 WIB
Pengukuran fisiologi (Respirasi, denyut nadi), memberi tambahan rumput dan air minum, mencari rumput lapangan,


06.00-08.00 WIB
Menimbang sisa pakan, Pengukuran Respirasi, denyut nadi, suhu rekal, pengukuran berat badan, tinggi badan, panjang badan, lingkar dada, pemberian pakan, minum, konsentrat, membersihkan kandang.
8
Selasa/ 22 September 2014
12.00-14.00 WIB
pengukuran lingkungan (temperature udara dan kelembapan), respirasi, denyut nadi, memberi tambahan rumput dan air minum.


16.00-18.00 WIB
Pengukuran fisiologi (Respirasi, denyut nadi), memberi tambahan rumput dan air minum, mencari rumput lapangan,


06.00-08.00 WIB
Menimbang sisa pakan, Pengukuran fisiologi (Respirasi, denyut nadi, suhu rekal), pengukuran berat badan, tinggi badan, panjang badan, lingkar dada, pemberian pakan, minum, konsentrat, membersihkan kandang.
9
Rabu/ 23 September 2014
12.00-14.00 WIB
pengukuran lingkungan (temperature udara dan kelembapan), respirasi, denyut nadi, memberi tambahan rumput dan air minum.


16.00-18.00 WIB
Pengukuran fisiologi (Respirasi, denyut nadi), memberi tambahan rumput dan air minum, mencari rumput lapangan,


06.00-08.00 WIB
Menimbang sisa pakan, Pengukuran Respirasi, denyut nadi, suhu rekal, pengukuran berat badan, tinggi badan, panjang badan, lingkar dada, pemberian pakan, minum, konsentrat, membersihkan kandang.
10
Kamis/ 24 September 2014
12.00-14.00 WIB
pengukuran lingkungan (temperature udara dan kelembapan), respirasi, denyut nadi, memberi tambahan rumput dan air minum.


16.00-18.00 WIB
Pengukuran fisiologi (Respirasi, denyut nadi), memberi tambahan rumput dan air minum, mencari rumput lapangan,


06.00-08.00 WIB
Menimbang sisa pakan, Pengukuran fisiologi (Respirasi, denyut nadi, suhu rekal), pengukuran berat badan, tinggi badan, panjang badan, lingkar dada, pemberian pakan, minum, konsentrat, membersihkan kandang.
11
Kamis/ 25 September 2014
12.00-14.00 WIB
pengukuran lingkungan (temperature udara dan kelembapan), respirasi, denyut nadi, memberi tambahan rumput dan air minum.


16.00-18.00 WIB
Pengukuran fisiologi (Respirasi, denyut nadi), memberi tambahan rumput dan air minum, mencari rumput lapangan,

b. Daftar Anggota Kelompok 

Kelompok 2 Sapi Shift Satu
NO.
Nama
NPM
1
Galih Ardiansyah
E1C013
2
Yuni Dhuhana
E1C013
3
Enjel R. Saragih
E1C013
4
Mory Fortarin
E1C013013
5
Abdurrahman
E1C013101
6
Septian Arianto
E1C013
7
Akbar Edo Saputra
E1C013059
Kelompok 2 Domba Shift Dua
NO.
Nama
NPM
1
Gilang Ramadhan
E1C013033
2
Abdurrahman
E1C013101
3
Anna Riski Wahyuni
E1C013071

A.2 MATERI

Latar Belakang

Kebutuhan daging sapi sebagai salah satu  sumber protein hewani semakin meningkat  sejalan dengan meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap pentingnya gizi yang  seimbang, pertambahan penduduk dan  meningkatnya daya beli masyarakat (Deptan, 2006). Hal ini tidak sejalan dengan produksi daging yang ada di Indonesia. Salah satu cara yang dapat digunakan untuk mengatasi kekurangan pasokan daging, melalui peternakan komersial atau peternakan rakyat. Kendala yang dihadapi yaitu susahnya bibit yang unggul serta jenis pakan yang berkualitas tinggi seperti rumput Gajah, rumput raja dll yang biasa digunakan oleh peternakan yang maju. Tofografi juga sangat menentukan keberhasilan dalam beternak baik ternak kecil maupun besar, salah satu jenis ternak besar yang dapat di usahakan seperti kerbau dan sapi.        Sapi potong merupakan salah satu ternak ruminansia yang mempunyai kontribusi terbesar sebagai penghasil daging. Selama ini produksi daging sapi di Indonesia belum mampu memenuhi permintaan dalam negeri yang cenderung meningkat setiap tahun. peningkatan kualitas bibit yang disertai pengontrolan terhadap penyakit. Perbaikan reproduksi dilakukan dengan IB dan penyapihan dini pedet untuk mempersingkat jarak beranak. Peningkatan minat dan motivasi peternak sapi potong untuk mengembangkan usahanya dapat diupayakan melalui pemberian insentif dalam berproduksi. Peningkatan permintaan terhadap daging sapi membuka peluang bagi pe-ngembangan sapi potong lokal dengan skala agribisnis melalui pola kemitraan. Sistem agribisnis sapi potong merupakan kegiatan yang mengintegrasikan pem-bangunan pertanian, industri, dan jasa secara simultan dalam suatu kluster (Suryana, 2009).
A.2.1 Ternak Potong (Ruminansia Besar)
Usaha sapi potong yang banyak dikembangbiakkan di Indonesia khususnya provinsi Bengkulu yaitu jenis sapi bali menurut Hidayat, (2010) Sapi bali merupakan sapi asli Indonesia yang diketahui mempunyai keunggulan-keunggulan dan nyata-nyata disukai oleh petani peternak, sehingga pengembangannya telah merata hampir di seluruh pelosok nusantara. Hal ini sejalan dengan usaha yang dilakukan oleh sebagian besar masyarakat Indonesia, yaitu sebagai petani. Ternak sapi merupakan bagian dari sebagian kehidupan petani karena dengan memelihara ternak sapi petani mendapatkan manfaat yang dapat meningkatkan hasil pertanian dan kesejahteraan keluarga petani.
Sapi Bali merupakan sumberdaya genetik hewan asli Indonesia, karena kerabat liarnya ada di Indonesia. Sapi Bali merupakan sapi asli Indonesia yang ciri - cirinya khas dan berbeda dari bangsa sapi lainnya. Keunggulan sapi Bali : memiliki efisiensi reproduksi yang tinggi, daging dan karkasnya berkualitas baik dan persentase karkasnya tinggi (karkasnya bahkan bisa mencapai 57%), Selanjutnya yang juga sangat menarik adalah daya adaptasinya terhadap lingkungan yang sangat baik,dan yang tidak kalah penting adalah kemampuannnya menggunakan sumber pakan yang terbatas.              
Kerajaan:
Filum:
Kelas:
Ordo:
Famili:
Upafamili:
Genus:
Spesies:
B. javanicus
Sejarah Sapi Bali                                                                                                                                Sapi Bali merupakan keturunan Banteng liar (Bos bibos atau Bos sondaicus) yang telah mengalami proses domestikasi selama berabad-abad. Domestikasi sapi Bali diduga terjadi di Asia Tenggara dan terpusat di Indonesia. Sapi Bali didomestikasi selama lebih kurang 3500 SM (Rollinson, 1984).                                                                                                        Sapi Bali merupakan satu dari empat bangsa sapi lokal utama (Aceh, Pesisir, Madura dan Bali) di Indonesia. Hubungan antara sapi Bali dan sapi lokal lainnya telah banyak diteliti, salah satunya dengan analisis DNA mitokondria. Menurut Kusdiantoro (2009) hubungan maternal dari sapi Bali asli dari empat tempat berbeda (Sulawesi, Bali, Sumatera Selatan, dan Sumatera Barat) berhubungan erat dengan banteng ditinjau dari analisis DNA mitokondria (mt), kromosom Y (Y) dan mikrosatelit alel autosom (µst).                                                      Daerah penyebaran sapi Bali meliputi hampir seluruh propinsi di Indonesia. Penyebaran sapi Bali di Indonesia dimulai pada tahun 1890 dengan adanya pengiriman ke Sulawesi, pengiriman selanjutnya dilakukan pada tahun 1920 dan 1927 (Herweijer, 1950). Kemudian, sekitar tahun 1947 dilakukan pengiriman besar-besaran sapi Bali oleh pemerintah Belanda ke Sulawesi Selatan yang langsung didistribusikan kepada petani (Pane, 1991). Sapi-sapi inilah bersama dengan pendahulunya menjadi cikal bakal sapi Bali di Sulawesi Selatan yang telah berkembang menjadi propinsi dengan jumlah sapi Bali terbanyak di Indonesia. Penyebaran sapi Bali ke Lombok dilakukan pada abad ke 19 yang dibawa oleh raja-raja pada jaman itu (Hardjosubroto dan Astuti, 1993) dan sampai ke pulau Timor antara tahun 1912 dan 1920. Selanjutnya dinyatakan bahwa penyebaran ke banyak wilayah di Indonesia dilakukan pada tahun 1962.                                                                                                                        
Ternak Potong (Ruminansia Kecil)
Domba atau biri-biri (Ovis) adalah ruminansia dengan rambut tebal dan dikenal orang banyak karena dipelihara untuk dimanfaatkan rambut (disebut wol), daging, dan susunya. Yang paling dikenal orang adalah domba peliharaan (Ovis aries), yang diduga keturunan dari moufflon liar dari Asia Tengah selatan dan barat-daya. Untuk tipe lain dari domba dan kerabat dekatnya, lihat kambing antilop. Domba berbeda dengan kambing.
Kerajaan:
Filum:
Kelas:
Ordo:
Ungulata
Famili:
Coroviane
Upafamili:
Artiodactylata
Genus:
Ovis
Spesies:
Ovis orientalisi
Sejarah Domba                                                                                                                       Domba seperti halnya kambing, sapi dan kerbau, tergolong dalam family Bavidae, Domba merupakan salah satu ternak yang diusahakan oleh peternak dalam skala kecil di pedesaan .(Toelihere,1977) Domba merupakan ternak ruminansia kecil yang potensial sebagai penghasil daging, wol dan susu (Blakely,1994).domba dan kambing pada hakikatnya merupakan 2 genus dari Bavidae yang berdekatan meskipun demikian, ada perbedaan yang mencolok yakni domba dan kambing tidak dapat dikawin silangkan.ciri domba yang paling gampng diamati adalah tanduk domba berpenampang segitiga yang tumbuh melilit seperti seiral.
Beberapa jenis domba yang tersebar di indonesia seperti :
  1. Domba ekor gemuk
  2. Domba ekor tipis
  3. Domba Garut
  4. Domba Pariangan
  5. Domba Kampung
A.2.2 Pakan
Dalam usaha peternakan, pakan merupakan faktor yang sangat penting dalam pengembangannya. Ternak membutuhkan pakan untuk kelangsungan hidup, produksi dan reproduksi, untuk itu harus cukup tersedia pakan yang baik kualitas, kuantitas dan kontinyutasnya. Kebutuhan ternak akan pakan sangat bervariasi tergantung dari tujuan usaha yang dijalankan. Untuk ternak ruminansia hijauan merupakan pakan utama, ketersediaan hijauan, dipengaruhi oleh banyak faktor salah satu diantaranya iklim. Tanaman hijauan pakan ternak khusus hijauan leguminosa (Lima, 2012).
Hijauan makanan ternak merupakan salah satu bahan pakan yang terdiri dari daun daunan, bercampur dengan ranting maupun bunga yang diberikan dalam keadaan segar. Hijauan ini terdiri dari rerumputan (gramineae), leguminoceae dan hijauan dari tanaman yang lain (Astuti, 2006).
Suatu usaha untuk dapat meningkatkan keuntungan yang lebih besar dari usaha peternakan ditekankan pada pemberian hijauan pakan semaksimal mungkin dengan mengurangi ketergantungan pada makanan penguat, untuk itu dibutuhkan hijauan pakan dengan produksi yang tinggi dan kualitas baik (Reksohadiprojo, 1994).
Hijauan pakan ternak adalah segala macam hijauan dari tumbuhtumbuhan atau tanaman yang dapat dimakan oleh ternak tanpa mengganggu kesehatan ternak tersebut, serta dapat dimanfaatkan untuk proses pertumbuhan, bereproduksi, dan berproduksi. Hijauan pakan ternak merupakan salah satu bahan pakan ternak yang sangat diperlukan dan besar manfaatnya bagi kehidupan ternak terutama ternak ruminansia. Sofyan (2010) menyatakan bahwa ternak ruminansia, hijauan merupakan pakan utamanya. Kebutuhan pokok konsumsi hijauan makanan ternak untuk setiap harinya 10% dari bobot badan ternak.  
Hijauan pakan yang diberikan oleh sebagian besar peternakan desa di Indonesia berupa rumput alam seperti; Axonopus compressus, Paspalum sp, Leersia hexandra, Brachiaria sp, Ludwigia perennis, Cyperus kyllingia, Malestoma affine, Amaranthus spinosus, Nephrolepis sp, Ottochloa nodosa, Panicum repens, Eleusine indic Sedangkan hijauan unggul seperti Pennisetum purpureum, Panicum maximum, Pennisetum purphupoides, Setaria spachelata masih sedikit, hal  ini disebabkan keterbatasanrumput ungggul (Syarifuddin, 2011).
Dalam usaha peternakan, pemilihan bibit mempunyai arti penting untuk mendukung keberhasilan usaha yang bersifat komersil, sedangkan dari segi pemeliharaannya akan memperlancar dari tujuan utama ternak di Indonesia sapi dimanfaatkan untuk diambil dagingnya dan domba lebih dimanfaatkan sebagai penghasil daging dan sebagian kecil wol (Adjisoedarmo, 1984). Menurut Sarwono (2005) sapi dan domba membutuhkan hijauan yang banyak ragamnya, sapi banyak menyukai hijauan rumput, domba sangat menyukai hijauan dan daun-daunan seperti daun turi, akasia, lamtoro, kaliandra dan rerumputan. Selain pakan dalam bentuk hijauan, sapid an domba juga memerlukan pakan penguat untuk mencukupi kebutuhan gizinya. Pakan penguat dapat terdiri dari satu macam bahan seperti dedak, bekatul padi, jagung, pelet, atau ampas tahu dan dapat juga dengan mencapurkan beberapa bahan tersebut. Kebutuhan ternak ruminansia terhadap pakan, dicerminkan oleh kebutuhannya terhadap nutrisi dan gizinya. Jumlah kebutuhan nutrisi setiap harinya sangat tergantung pada jenis ternak, umur, bangsa, fase (pertumbuhan, dewasa, bunting atau menyusui), kondisi tubuh (sehat atau sakit) dan iklim (temperatut dan kelembapan udara).
Menyatakan kebutuhan pakan domba meningkat selama domba dalam masa pertumbuhan bobot badan pada masa kebuntingan, rumput mengambil peranan penting dalam pakan ternak dan dapat juga diberikan dalam jumlah besar, lagi pula mudah didapat dimana-mana. Rumput mengandung semua zat pakan yang dibutuhkan oleh ternak ruminansia besar dan kecil.
kebutuhan Pakan ternak Domba per Ekor dalam satu hari menurut kondisi ternak.
Kondisi ternak
Jenis pakan
Rumput
Daun – daun
Kosentrat

Dewasa

75%

25%

-
Induk buntuing
60%
40%
2 – 3 gelas
Induk menyusui
50%
50%
2 – 3 gelas
Anak sebelum disapih
50%
50%
-
Anak lepas sapih
60%
40%
0,5 – 1 gelas

A.2.3 Kandang
Untuk menuju usaha ternak yang berhasil harus dimulai dari membuat kandang, karena kandang merupakan tempat dimana sapi akan menghabiskan sebagian besar waktunya, terutama sapi-sapi yang digemukan di kandang. Kandang yang baik tidak selalu harus dibuat dari bahan-bahan yang mahal, karena dapat dibuat dengan memanfaatkan bahan-bahan yang terdapat di sekitar kita, misalnya menggunakan bambu, batang kayu yang cukup besar, dan bahkan untuk atap dapat menggunakan rumbia/alang-alang. Namun demikian, bahan yang dianjurkan adalah bahan yang dapat bertahan lama.
Kandang berfungsi sebagai tempat tinggal ternak untuk melindungi dari pengaruh buruk iklim (hujan, panas, angin, temperatur) dan gangguan lainnya seperti hewan liar dan pencurian ternak.Agar ternak dapat berproduksi secara optimal maka kandang harus mampu memberikan tempat yang nyaman bagi ternak.Dalam pembuatan kandang ada tiga faktor yang harus dipertimbangkan yaitu faktor biologis, faktor teknis dan ekonomis.
Dalam membuat kandang (yang sederhana sekalipun) dituntut untuk dapat memenuhi syarat-syarat yang ditentukan. Untuk hal ini, perlu diperhatikan beberapa aspek yang diuraikan di bawah ini:
A.2.3.1 Tata Letak Kandang
Bangunan kandang sebaiknya dibuat dengan jarak 6-10 m dari rumah, dan jangan sampai mendirikan kandang yang berhimpitan dengan rumah kita. Ventilasi udara kandang dapat mengalir dengan lancar dan seyogyanya dapat diusahakan untuk menghadapkan kandang ke Timur agar sinar matahari pagi dapat menyinari kandang dan bagian dalamnya. Kandang sebagai pelindung ternak harus dapat melindungi ternak dari panas, hujan, dan terpaan angin secara langsung yang kuat, terutama di malam hari.
A.2.3.2 Ukuran dan Bentuk Kandang
Ruangan kandang yang dibutuhkan agar sapi dapat leluasa serta nyaman untuk tinggal di dalamnya adalah sekitar 1,8 x 2 m2/ekor.
A.2.3.3 Lantai dan Atap Kandang
Prinsip didalam pembuatan lantai kandang adalah mengkondisikan agar kandang selalu kering atau tidak becek, sehingga dalam pembuatannya agar memperhatikan kemungkinan tergenangnya air seni dan kotoran. Untuk itu, lantai kandang diusahakan dibuat dari bahan yang padat, misalnya dengan lantai semen, atau dengan tanah yang dipadatkan. Untuk menghindari tergenangnya air seni, lantai kandang harus dibuat miring, yang kemudian dibagian paling rendah dibuat parit untuk menyalurkan air seni ke bak penampung.
Untuk melindungi ternak dari panas dan hujan, kandang harus dilengkapi dengan atap, yang dapat menggunakan genteng atau seng, atau secara sederhana dapat memanfaatkan daun rumbia atau alang-alang.


A.2.3.4 Perlengkapan Kandang
Kandang yang baik haruslah dapat memberikan rasa yang nyaman untuk ternak. Untuk itu, perlengkapan kandang seperti tempat pakan dan minum harus disediakan. Pakan ternak, baik hijauan maupun konsentrat (misalnya dedak, ampas tahu) tidak dapat diletakkan begitu saja, karena pakan yang diletakkan begitu saja dapat tercampur kotoran sapi dan tercemar telur cacing yang dapat mengganggu kesehatan ternak. Tempat pakan dan minum diusahakan agar tidak mudah kena kotoran sapi, sehingga sering diletakkan di bagian depan (kepala) untuk sapi yang diikat atau diletakkan di sisi luar pembatas kandang. Fasilitas lain yang seyogyanya tersedia adalah kandang jepit (kandang sempit) yang berguna untuk penanganan pengobatan atau layanan perkawinan. menggunakan peralatan seperti  ember, timbangan, pita meter, arit   (sabit rumput), pita meter, hydrometer, thermometer, togkat ukur, sapu lidi, dan gunting.
A.2.3.5 Pemeliharaan Kandang
Kandang sapi harus dibersihkan setiap hari, dan kotoran sapi harus ditampung di tempat penampungan kotoran sehingga tidak mengganggu aliran air seni menuju bak penampungan air seni. Penampungan kotoran harus dibuat sedemikian rupa agar kotoran sapi tersebut tidak mengganggu lingkungan dan dapat dimanfaatkan sebagai pupuk kandang. Untuk mencegah agar kotoran sapi tidak mengganggu lingkungan dan pupuk kandang yang dihasilkan mempunyai kualitas yang baik, kotoran sapi yang ditampung di penampungan haruslah dilindungi dari air hujan dengan memberi atap yang sederhana.

A.3 METODE

1. Pengukuran produksi

Mengukur berat badan
Pengukuran berat badan ternak sapi menggunakan timbangan alplex,sedangkan pada domba menggunakan timbangan manual.
Mengukur lingkar dada
Lingkar dada sapi dan domba di ukur dengan cara melingkarkan pita meter pada tulang rusuk paling depan persis pada belakang kaki depan.
Mengukur Tinggi Gumba
Tinggi panggul adalah jarak tegak lurus dari tanah sampai dengan puncak gumba atau di  belakang punuk untuk sapi.Menggukur tinggi panggul atau tinggi gumba dengan cara menempatkan mistar ukur tegak lurus dan pastikan bagian horizontal dari mistar persis berada di atas gumba.
Mengukur Tinggi Badan
Menggukur tinggi badan pada ternak sapi dan domba dengan cara menempatkan mistar ukur tegak lurus dan pastikan bagian horizontal dari mistar persis berada di atas badan.
Mengukur Panjang Badan
Panjang badan adalah panjang dari titik bahu ke tulang duduk (pin bone). Menggukur panjang badan pada ternak sapi dan domba dengan cara menempatkan mistar ukur pada bagian titik bahu sampai pada tulang duduk.
Pengukuran Konsumsi pakan hijauan dan kosentrat
Hijauan pada ternak sapi dan domba diberikan 10% dari berat badan sedangkan kosentrat diberikan 1% dari berat badan.

2. Fisiologis

Respirasi
Mengukur Respirasi pada ternak sapi  dan domba dengan cara meletakan punggung tangan dekat hidung dan dengan cara melihat kembang kempisnya perut.
Denyut nadi
Mengukur denyut nadi dengan cara palpasi yaitu dengan menggunakan ujung jari tangan disepanjang jalannya pembuluh darah arteri, terutama pada tempat- tempat tonjolan tulang dengan sedikit menekan diatas pembuluh darah arteri atau dengan cara merasakan denyut nadi pada bagian dalam bagian atas kaki belakang.
Temperature rektal
Mengukur temperatur rektal menggunakan termometer dengan derajat celcius. Dengan suhu normal tubuh adalah 37 ° C mengukur temperature rektal dengan cara memindahkan ekor ke samping. Metakkan termometer dengan hati-hati ke dalam anus, dengan memegang termometer pada sudut sehingga menyentuh dinding rektum.
Lingkungan
Mengukur lingkungan mengunakan termometer dan hydrometer.termometer di gunakan untuk mengukur suhu dengan cara mengantung termometer di dalam atau didekat kandang.sedangkan hydrometer di gunakan untuk mengukur kelembaban dengan cara mengantung hydrometer di dalam atau di dekat kandang.
Kondisi lingkungan
Mengukur lingkungan mengunakan termometer dan hydrometer.termometer di gunakan untuk mengukur suhu dengan cara mengantung termometer di dalam atau didekat kandang.sedangkan hydrometer di gunakan untuk mengukur kelembaban dengan cara mengantung hydrometer di dalam atau di dekat kandang
Pengukuran umur
Mengukur atau menduga umur sapi dan domba dengan cara melihat pertumbuhan gigi.
Body Condition Score (BCS)
BCS adalah nilai kondisi tubuh yang didasarkan pada estimasi visual timbunan lemak tubuh dibawah kulit sekitar pangkal ekor, tulang punggung, tulang rusuk dan pinggul lemak, dapat digunakan untuk prediksi dini status kesenjangan energi sapi perah selama awal laktasi. Penilaian kondisi tubuh ternak, terutama untuk sapi perah di Indonesia masih jarang dilakukan sehingga untuk kondisi peternakan sapi perah rakyat sangat penting (Hayati, dkk, 2002).
Skor 0-5 diberikan atas dasar lemak yang dapat didasarkan pada daerah pelvis dan sacralis. Skor 0 menggambarkan sapi yang sangat kurus, skor 5 untuk sapi yang sangat gemuk. Secara umum telah disetujui bahwa induk sapi perah mempunyai rata-rata BCS








BAB II

HASIL DAN PEMBAHASAN


B.1 KONSUMSI PAKAN

Hijauan dan Konsentrat

Hasil pegamatan pada sapi Kelompok 2 Shift 1
Hari ke…
Tanggal
Pakan
Konsumsi (kg/hari)
Pemberian Awal
Tambahan
Sisa
Konsumsi
1
15-Sep-14
Rumput
10 Kg
10 Kg
4 Kg
16 Kg
Konsentrat




Air Minum
8 Kg
8 Kg
4 Kg
12 Kg
2
16-Sep-14
Rumput
10 Kg
13 Kg
3 Kg
20 Kg
Konsentrat




Air Minum
4 Kg
4 Kg
1,5 Kg
6,5 Kg
3
17-Sep-14
Rumput
7,5 Kg
13,5 Kg
4 Kg
17 kg
Konsentrat
23Cap

5 Cup
18 Cup
Air Minum
8 Kg
16 Kg
4 Kg
20 Kg
4
18-Sep-14
Rumput
9 kg
15 kg
4 Kg
23 Kg
Konsentrat
23 Cup

7 Cup
16 Cup
Air Minum
8 Kg
8 Kg
3 Kg
12 Kg
5
19-Sep-14
Rumput
11 Kg
5 Kg
2 Kg
13 Kg
Konsentrat
7 Cup
12 Cup
2 Cup
17 Cup
Air Minum
8 Kg
8 Kg
1 Kg
16 Kg
6
25-Sep-14
Rumput
10 Kg
15 Kg
6 Kg
19 Kg
Konsentrat
2 Kg

7 Ons
1,3 Kg
Air Minum
8 Kg
4 Kg
3 Kg
9 Kg



Hasil pegamatan pada domba Kelompok 2 Shift dua
Hari ke…
Tanggal
Pakan
Konsumsi (kg/hari)
Pemberian Awal
Tambahan
Sisa
Konsumsi
1
20-Sep-14
Rumput




Konsentrat




Air Minum




2
21-Sep-14
Rumput




Konsentrat




Air Minum




3
22-Sep-14
Rumput




Konsentrat




Air Minum




4
23-Sep-14
Rumput




Konsentrat




Air Minum




5
24-Sep-14
Rumput




Konsentrat




Air Minum




6
25-Sep-14
Rumput




Konsentrat




Air Minum










B.2 PRODUKSI

Hasil pegamatan pada sapi Kelompok 2 Shift 1

Hari ke…
Tanggal
Berat Badan Kg
Tinggi Badan (cm)
Panjang Badan (cm)
Lingkar dada (cm)
1
15-Sep-14
176
111
109
142
2
16-Sep-14

112
111
142
3
17-Sep-14

112
111
143
4
18-Sep-14

112
113
145
5
19-Sep-14
190
112
113
146
6
25-Sep-14
191
118
121
146

Umur Ternak Domba  :
Lingkar Scrotum         :

Hasil pegamatan pada Domba Kelompok 2 Shift 2

Hari ke…
Tanggal
Berat Badan Kg
Tinggi Badan (cm)
Panjang Badan (cm)
Lingkar dada (cm)
1
20-Sep-14




2
21-Sep-14




3
22-Sep-14




4
23-Sep-14




5
24-Sep-14




6
25-Sep-14





Umur Ternak Domba  :
Lingkar Scrotum         :

B.3 FISIOLOGI

Hasil pegamatan pada sapi Kelompok 2 Shift 1

Hari ke…
Tanggal
Waktu
Pengukuran Fisiologi
Pengukuran Lingkungan
Respirasi (x/menit)
Denyut Jantung (x/menit)
Temperatur Rektal (oC)
Temperatur Udara (oC)
Kelembapan Udara (%)
1
15-Sep-14
Pagi
38
52

25

Siang
44
52

29

Sore
30
58

30

2
16-Sep-14
Pagi
38
42
37,3
24

Siang
48
64

29

Sore
32
42

30
40%
3
17-Sep-14
Pagi
24
44
37,9
25

Siang
14
80

33

Sore
26
62

30

4
18-Sep-14
Pagi
20
62
38
25

Siang
34
62

31

Sore
22
62

34

5
19-Sep-14
Pagi
30
60
37,5
27

Siang
30
68

34

Sore
32
62

31

6
25-Sep-14
Pagi
24
62
37
25

Siang
36
66

32

Sore
24
68

31







Hasil pegamatan pada domba Kelompok 2 Shift dua

Tanggal
waktu
Pengukuran Fisiologi
Pengukuran Lingkungan
Respirasi (x/menit)
Denyut Jantung (x/menit)
Temperatur Rektal (oC)
Temperatur Udara (oC)
Kelembapan Udara (%)
20-Sep-14
Pagi





Siang





Sore





21-Sep-14
Pagi





Siang





Sore





22-Sep-14
Pagi





Siang





Sore





23-Sep-14
Pagi





Siang





Sore





24-Sep-14
Pagi





Siang





Sore





25-Sep-14
Pagi





Siang





Sore





B.4  Umur ternak dan Estimasi BCS            

           

PEMBAHASAN

Pada sapi

Dalam pratikum MK produksi ternak potong dan kerja yang kami lakukan dikandang peternakan dilakukan mulai dari tanggal 23 november 2010,menggunakan 1 ekor  sapi yaitu sapi PO betina Yang berumur 25 bulan yang memiliki anak berumur +  4 bulan dengan pemberian pakan dilakukan pada waktu pagi siang dan sore.adapun rumput yang diberikan pada ternak yaitu menggunakan hijauan dari lapangan (rumput lapanggan ) selain rumput juga menggunakan kosentrat yaitu dedak.untuk pemberian pakan khususnya hijauan yaitu sebanyak 10% dari berat badan, untuk konsentrat sebanyak 1% dari berat badan. Untuk mengetahui berat badan ternak potong diukur dengan menggunakan timbangan elektik.pada penimbanagn pertama berat badan ternak yaitu 206 kg\ sebelum diberi perlakuan khusus.setelah diberi perlakuan khusus berat masih tetap itu diketahui setelah penimbangan terakhir kemungkinan berat tarsebut ngak bertambah dikaranakan ternak tersebut masih menyusui, selain member makan ternak  juga diberi minum tapi pada pemberian minum tidak di tentukan seperti pemberian pakan yang terpenting cukup untuk ternak.
Untuk pengukuran lingkar dada menggunakan pita meter pada pengukuran pertama lingar dada sapi sapi yaitu 144 setelah diberi perlakuan lingkar dada bertambah menjadi 148, sedangkan untuk mengetaghui tinggi gumbah kami melakukan pengukuran dengan menggunakan meter yang berbentuk tongkat, mengapa menggunakan meteran tersebut karena meteran tersebut menurut kami meteran tersebut akurat. Pada pengukuran pertama tinggi gumbah 112 setelah pemberian perlakuan tinggi gumba bertambah menjadi 113.itu diketahui setelah pengukuran terakhir.
Untuk mengetahui kesehatan ternak dilakukan pengukuran respirsi denagan cara meletakan tangan dihidung ternak yang hasilnya dapat dilihat pada table fisiologi ternak sapi.

Pada domba

Untuk pembahasan  domba hampir sama dengan dengan sapi tapi untuk domba yang membedakan adalah pengukuran rectal dan pencukuran wol.
Pada pratikum MK produksi ternak potong dan kerja mengunakan domba garut jantan diperkirakan berumur 27 bulan berat pada penimbangan pertama sebelum diberi perlakuan adalah 27,5 kg setelah diberiperlakuan berat badan ternak naik rata-rata 1,2 kg ntuk pemberian pakan menggunakan hijaan lapan dan kosentrat. Untuk hijauan diberi 10% dari BB.sedangkan utuk kosentrat diberi sebanyak 1% dari BB,
Fisiologi
Untuk mendeteksi kemungkinan ternak tersebut sakit atau sehat, mengukur suhu rectal  salah satu cara yang dapat  dipakai. pada ternak domba suhu rectal yang normal  berkisar 37%,mengetahui respirasi bertujuan mendeteksi kemungkinan ternak tersebut setres atau tidak. Wol pada ternak domba merupakan alat pelindung kulit dari iklim,apa bila wol tersebut terlalu panjang itu juga kurang baik untuk ternak, apa bila wol lengket dg peses bisa mengganggu kesehatan ternak itu sendiri, pada pencukuran wol berat wol yang telah dicukur saeberat 0,1 kg.




















BAB III

KESIMPULAN dan SARAN





















DAFTAR PUSTAKA

Departemen Pertanian, 2006. Peraturan Menteri Pertanian Nomor 54/Permentan/OT.140/10/2006 tentang  Pedoman Pembibitan Sapi Potong yang Baik (Good Breeding Practice)
.
Hidayat. 2010. Beternak Sapi Bali. Jurusan Peternakan Universitas Bengkulu. Bengkulu
Suryana.2009 pengembangan usaha ternak sapi potong Berorientasi agribisnis dengan pola Kemitraan. Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Kalimantan Selatan


(Blakely,1994).

Sofyan A., 2010. Pedoman Teknis Perluasan Areal Kebun Hijauan
Makanan Ternak. Kementerian Pertanian, Jakarta.
Lima, D. D. 2012. pengaruh waktu perendaman dalam air panas terhadap daya kecambah leguminosa centro (centrosema pubescens) dan siratro (macroptilium atropurpureum). Jurusan Peternakan Fakultas Pertanian Universitas Pattimura. Agrinimal, Vol. 2, No. 1, April 2012, Hal. 26-29
Syarifuddin H.2011. komposisi dan struktur hijauan pakan ternak di bawah perkebunan kelapa sawit. Laboratorium Hijauan Makanan Ternak Fakultas Peternakan Universitas Jambi. AGRINAK. Vol. 01 No.1 September 2011:25–30.
Astuti .N,. 2006. Pengaruh Umur Pemotongan Terhadap Kandungan Nutrien Rumput Raja (king grass). Prodi peternakan, fak. Agroindustri, univ. Mercu buana yogyakarta
Reksohadiprodjo .S., 1994. Produksi Tanaman Hijauan Makanan Ternak, Edisi 3. Penerbit BPFE. Yogyakarta.



LAMPIRAN




































                                                                                                                       





DAFTAR PUSTKA





No comments:

Post a Comment

Program Pencegahan Penyakit Unggas