LAPORAN PRAKTIKUM
MK.PRODUKSI TERNAK POTONG dan KERJA
Oleh ;
ABDURRAHMAN
E1C013101
Jurusan Peternakan – Fakultas Pertanian
Universitas Bengkulu
Oktober 2014
KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadiratan kita ucapkan
kepada Allah SWT atas nikmat dan karunianya sehingga saya dapat menyelesaikan
laporan ini adalah bukti atau hasil dari praktikum yang kami laksanakan selama
10 hari. Harapan saya sebagai mahasiswa peternakan dengan adanya laporan ini
saya dapat lebih mengetahui tentang peternakan khususnya di manejemen produksi
ternak potong yang ada di Indonesia dan dapat melaksanakannya di kehidupan
sehari-hari. Shalawat dan salam kita hadiahkan kepada Nabi Muhammad SAW.
Laporan pratikum
merupakan hasil dari kegiatan yang bersangkutan langsung dengan kegiatan
dilapangan agar dapat mengetahui ledih banyak hal tentan objek yang jadi bahan
atau simple yang diamati. saya menyadari bahua banyak hal didalam tulisan yang
saya buat tidak menggunakan ejaan yang benar, karena ini merupakan proses
pembelajaran.
1.
Dr.Ir Dwatmadji, M.Sc (Selaku penangggung jawab di mata kuliah manajemen
ternak potong dan kerja) yang telah
memberikan fasilitas yang mendukung semua aspek dalam pembuatan laporan ini.
2.
Kedua orang tuaku yang telah melahirkan aku dan senantiasa memberikan
dukungan moral dan material untuk pembuatan laporan ini. Saya dedikasikan
laporan ini untuk kalian ayah dan ibuku tercinta.
3.
Akbar Edo Saputra, Mory Fortain, Septiyan Arianto, Galih, Enjel R saragih,
Yuni Dhuhana, Gilang Ramadan, Anna Riski Wahyuni selaku satu kelompok yang
menemaniku dalam suka maupun duka, semangat kawan-kawan.
4.
Teman-teman angkatan 2013 jurusan peternakan yang menjadi kawan
seperjuangan.
5.
Adek-adek tingkat semua yang membantu dan mendukung saya selama ini.
Bengkulu, Oktober
2014
ABDURRAHMAN E1C013101
DAFTAR ISI
BAB I
MATERI DAN METODE
A.1 Jadwal Pelaksanaan dan Daftar Anggota Kelompok
a. Jadwal Pelaksanaan Praktikum
|
NO.
|
Hari/Tanggal
|
Waktu
|
Kegiatan
|
|
|
|
06.00-08.00 WIB
|
Menimbang bobot sapit Pengukuran fisiologi (Respirasi,
denyut nadi, suhu rekal), pengukuran berat badan, tinggi badan, panjang
badan, lingkar dada, pemberian pakan, minum , membersihkan kandang.
|
|
1
|
Senin/ 15 September 2014
|
12.00-14.00 WIB
|
pengukuran lingkungan (temperature udara dan kelembapan),
respirasi, denyut nadi, memberi tambahan rumput dan air minum.
|
|
|
|
16.00-18.00 WIB
|
Pengukuran fisiologi
(Respirasi, denyut nadi), memberi tambahan rumput dan air minum, mencari
rumput lapangan
|
|
|
|
06.00-08.00 WIB
|
Menimbang sisa pakan, Pengukuran fisiologi (Respirasi,
denyut nadi, suhu rekal), pengukuran berat badan, tinggi badan, panjang
badan, lingkar dada, pemberian pakan, minum, membersihkan kandang.
|
|
2
|
Selasa/ 16 September 2014
|
12.00-14.00 WIB
|
pengukuran lingkungan (temperature udara dan kelembapan),
respirasi, denyut nadi, memberi tambahan rumput dan air minum.
|
|
|
|
16.00-18.00 WIB
|
Pengukuran fisiologi
(Respirasi, denyut nadi), memberi tambahan rumput dan air minum, mencari
rumput lapangan
|
|
|
|
06.00-08.00 WIB
|
Menimbang sisa pakan, Pengukuran fisiologi (Respirasi,
denyut nadi, suhu rekal), pengukuran berat badan, tinggi badan, panjang
badan, lingkar dada, pemberian pakan, minum, konsentrat, membersihkan
kandang.
|
|
3
|
Rabu/ 17 September 2014
|
12.00-14.00 WIB
|
pengukuran lingkungan (temperature udara dan kelembapan),
respirasi, denyut nadi, memberi tambahan rumput dan air minum.
|
|
|
|
16.00-18.00 WIB
|
Pengukuran fisiologi
(Respirasi, denyut nadi), memberi tambahan rumput dan air minum, mencari
rumput lapangan,
|
|
|
|
06.00-08.00 WIB
|
Menimbang sisa pakan, Pengukuran fisiologi (Respirasi,
denyut nadi, suhu rekal), pengukuran berat badan, tinggi badan, panjang
badan, lingkar dada, pemberian pakan, minum, konsentrat, membersihkan
kandang.
|
|
4
|
Kamis/ 18 September 2014
|
12.00-14.00 WIB
|
pengukuran lingkungan (temperature udara dan kelembapan),
respirasi, denyut nadi, memberi tambahan rumput dan air minum.
|
|
|
|
16.00-18.00 WIB
|
Pengukuran fisiologi (Respirasi, denyut nadi), memberi
tambahan rumput dan air minum, mencari rumput lapangan,
|
|
|
|
06.00-08.00 WIB
|
Menimbang sisa pakan, Pengukuran fisiologi (Respirasi,
denyut nadi, suhu rekal), pengukuran berat badan, tinggi badan, panjang
badan, lingkar dada, pemberian pakan, minum, konsentrat, membersihkan
kandang.
|
|
5
|
Jum’at/ 19 September 2014
|
12.00-14.00 WIB
|
pengukuran lingkungan (temperature udara dan kelembapan),
respirasi, denyut nadi, memberi tambahan rumput dan air minum.
|
|
|
|
16.00-18.00 WIB
|
Pengukuran fisiologi (Respirasi, denyut nadi), memberi
tambahan rumput dan air minum, mencari rumput lapangan,
|
|
|
|
06.00-08.00 WIB
|
Menimbang sisa pakan, menimbang bobot sapi, Pengukuran fisiologi
(Respirasi, denyut nadi, suhu rekal), pengukuran berat badan, tinggi badan,
panjang badan, lingkar dada, pemberian pakan, minum, konsentrat, membersihkan
kandang.
|
|
6
|
Sabtu/ 20 September 2014
|
12.00-14.00 WIB
|
pengukuran lingkungan (temperature udara dan kelembapan),
respirasi, denyut nadi, memberi tambahan rumput dan air minum.
|
|
|
|
16.00-18.00 WIB
|
Pengukuran fisiologi (Respirasi, denyut nadi), memberi
tambahan rumput dan air minum, mencari rumput lapangan,
|
|
|
|
06.00-08.00 WIB
|
Menimbang sisa pakan, Pengukuran fisiologi (Respirasi,
denyut nadi, suhu rekal), pengukuran berat badan, tinggi badan, panjang
badan, lingkar dada, pemberian pakan, minum, konsentrat, membersihkan
kandang.
|
|
7
|
Senin/ 21 September 2014
|
12.00-14.00 WIB
|
pengukuran lingkungan (temperature udara dan kelembapan),
respirasi, denyut nadi, memberi tambahan rumput dan air minum.
|
|
|
|
16.00-18.00 WIB
|
Pengukuran fisiologi (Respirasi, denyut nadi), memberi
tambahan rumput dan air minum, mencari rumput lapangan,
|
|
|
|
06.00-08.00 WIB
|
Menimbang sisa pakan, Pengukuran Respirasi, denyut nadi,
suhu rekal, pengukuran berat badan, tinggi badan, panjang badan, lingkar
dada, pemberian pakan, minum, konsentrat, membersihkan kandang.
|
|
8
|
Selasa/ 22 September 2014
|
12.00-14.00 WIB
|
pengukuran lingkungan (temperature udara dan kelembapan),
respirasi, denyut nadi, memberi tambahan rumput dan air minum.
|
|
|
|
16.00-18.00 WIB
|
Pengukuran fisiologi (Respirasi, denyut nadi), memberi
tambahan rumput dan air minum, mencari rumput lapangan,
|
|
|
|
06.00-08.00 WIB
|
Menimbang sisa pakan, Pengukuran fisiologi (Respirasi,
denyut nadi, suhu rekal), pengukuran berat badan, tinggi badan, panjang
badan, lingkar dada, pemberian pakan, minum, konsentrat, membersihkan
kandang.
|
|
9
|
Rabu/ 23 September 2014
|
12.00-14.00 WIB
|
pengukuran lingkungan (temperature udara dan kelembapan),
respirasi, denyut nadi, memberi tambahan rumput dan air minum.
|
|
|
|
16.00-18.00 WIB
|
Pengukuran fisiologi (Respirasi, denyut nadi), memberi
tambahan rumput dan air minum, mencari rumput lapangan,
|
|
|
|
06.00-08.00 WIB
|
Menimbang sisa pakan, Pengukuran Respirasi, denyut nadi,
suhu rekal, pengukuran berat badan, tinggi badan, panjang badan, lingkar
dada, pemberian pakan, minum, konsentrat, membersihkan kandang.
|
|
10
|
Kamis/ 24 September 2014
|
12.00-14.00 WIB
|
pengukuran lingkungan (temperature udara dan kelembapan),
respirasi, denyut nadi, memberi tambahan rumput dan air minum.
|
|
|
|
16.00-18.00 WIB
|
Pengukuran fisiologi (Respirasi, denyut nadi), memberi
tambahan rumput dan air minum, mencari rumput lapangan,
|
|
|
|
06.00-08.00 WIB
|
Menimbang sisa pakan, Pengukuran fisiologi (Respirasi,
denyut nadi, suhu rekal), pengukuran berat badan, tinggi badan, panjang
badan, lingkar dada, pemberian pakan, minum, konsentrat, membersihkan
kandang.
|
|
11
|
Kamis/ 25 September 2014
|
12.00-14.00 WIB
|
pengukuran lingkungan (temperature udara dan kelembapan),
respirasi, denyut nadi, memberi tambahan rumput dan air minum.
|
|
|
|
16.00-18.00 WIB
|
Pengukuran fisiologi
(Respirasi, denyut nadi), memberi tambahan rumput dan air minum, mencari
rumput lapangan,
|
b. Daftar Anggota
Kelompok
Kelompok 2 Sapi Shift Satu
|
NO.
|
Nama
|
NPM
|
|
1
|
Galih Ardiansyah
|
E1C013
|
|
2
|
Yuni Dhuhana
|
E1C013
|
|
3
|
Enjel R. Saragih
|
E1C013
|
|
4
|
Mory Fortarin
|
E1C013013
|
|
5
|
Abdurrahman
|
E1C013101
|
|
6
|
Septian Arianto
|
E1C013
|
|
7
|
Akbar Edo Saputra
|
E1C013059
|
Kelompok 2 Domba Shift Dua
|
NO.
|
Nama
|
NPM
|
|
1
|
Gilang Ramadhan
|
E1C013033
|
|
2
|
Abdurrahman
|
E1C013101
|
|
3
|
Anna Riski Wahyuni
|
E1C013071
|
A.2 MATERI
Latar Belakang
Kebutuhan daging sapi sebagai salah satu
sumber protein hewani semakin meningkat
sejalan dengan meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap pentingnya
gizi yang seimbang, pertambahan penduduk
dan meningkatnya daya beli masyarakat
(Deptan, 2006). Hal
ini tidak sejalan dengan produksi daging yang ada di Indonesia. Salah satu cara
yang dapat digunakan untuk mengatasi kekurangan pasokan daging, melalui
peternakan komersial atau peternakan rakyat. Kendala yang dihadapi yaitu
susahnya bibit yang unggul serta jenis pakan yang berkualitas tinggi seperti
rumput Gajah, rumput raja dll yang biasa digunakan oleh peternakan yang maju. Tofografi
juga sangat menentukan keberhasilan dalam beternak baik ternak kecil maupun
besar, salah satu jenis ternak besar yang dapat di usahakan seperti kerbau dan
sapi. Sapi potong merupakan salah satu ternak ruminansia yang mempunyai
kontribusi terbesar sebagai penghasil daging. Selama ini produksi daging sapi
di Indonesia belum mampu memenuhi permintaan dalam negeri yang cenderung
meningkat setiap tahun. peningkatan kualitas bibit yang disertai pengontrolan
terhadap penyakit. Perbaikan reproduksi dilakukan dengan IB dan penyapihan dini
pedet untuk mempersingkat jarak beranak. Peningkatan minat dan motivasi
peternak sapi potong untuk mengembangkan usahanya dapat diupayakan melalui
pemberian insentif dalam berproduksi. Peningkatan permintaan terhadap daging
sapi membuka peluang bagi pe-ngembangan sapi potong lokal dengan skala
agribisnis melalui pola kemitraan. Sistem agribisnis sapi potong merupakan
kegiatan yang mengintegrasikan pem-bangunan pertanian, industri, dan jasa
secara simultan dalam suatu kluster (Suryana, 2009).
A.2.1 Ternak Potong
(Ruminansia Besar)
Usaha sapi potong yang banyak dikembangbiakkan di Indonesia khususnya
provinsi Bengkulu yaitu jenis sapi bali menurut Hidayat, (2010) Sapi bali merupakan sapi asli Indonesia
yang diketahui mempunyai keunggulan-keunggulan dan nyata-nyata disukai oleh
petani peternak, sehingga pengembangannya telah merata hampir di seluruh
pelosok nusantara. Hal ini sejalan dengan usaha yang dilakukan oleh sebagian
besar masyarakat Indonesia, yaitu sebagai petani. Ternak sapi merupakan bagian
dari sebagian kehidupan petani karena dengan memelihara ternak sapi petani
mendapatkan manfaat yang dapat meningkatkan hasil pertanian dan kesejahteraan
keluarga petani.
Sapi Bali merupakan sumberdaya genetik
hewan asli Indonesia, karena kerabat liarnya ada di Indonesia. Sapi Bali
merupakan sapi asli Indonesia yang ciri - cirinya khas dan berbeda dari bangsa
sapi lainnya. Keunggulan sapi Bali : memiliki efisiensi reproduksi yang
tinggi, daging dan karkasnya berkualitas baik dan persentase karkasnya tinggi
(karkasnya bahkan bisa mencapai 57%), Selanjutnya yang juga sangat menarik
adalah daya adaptasinya terhadap lingkungan yang sangat baik,dan yang tidak
kalah penting adalah kemampuannnya menggunakan sumber pakan yang terbatas.
Sejarah Sapi Bali Sapi Bali merupakan keturunan Banteng liar (Bos bibos atau Bos
sondaicus) yang telah mengalami proses domestikasi selama berabad-abad.
Domestikasi sapi Bali diduga terjadi di Asia Tenggara dan terpusat di
Indonesia. Sapi Bali didomestikasi selama lebih kurang 3500 SM (Rollinson,
1984). Sapi Bali merupakan satu dari empat bangsa sapi lokal utama (Aceh,
Pesisir, Madura dan Bali) di Indonesia. Hubungan antara sapi Bali dan sapi
lokal lainnya telah banyak diteliti, salah satunya dengan analisis DNA
mitokondria. Menurut Kusdiantoro (2009) hubungan maternal dari sapi Bali asli
dari empat tempat berbeda (Sulawesi, Bali, Sumatera Selatan, dan Sumatera
Barat) berhubungan erat dengan banteng ditinjau dari analisis DNA mitokondria
(mt), kromosom Y (Y) dan mikrosatelit alel autosom (µst). Daerah
penyebaran sapi Bali meliputi hampir seluruh propinsi di Indonesia. Penyebaran
sapi Bali di Indonesia dimulai pada tahun 1890 dengan adanya pengiriman ke
Sulawesi, pengiriman selanjutnya dilakukan pada tahun 1920 dan 1927 (Herweijer,
1950). Kemudian, sekitar tahun 1947 dilakukan pengiriman besar-besaran sapi
Bali oleh pemerintah Belanda ke Sulawesi Selatan yang langsung didistribusikan
kepada petani (Pane, 1991). Sapi-sapi inilah bersama dengan pendahulunya
menjadi cikal bakal sapi Bali di Sulawesi Selatan yang telah berkembang menjadi
propinsi dengan jumlah sapi Bali terbanyak di Indonesia. Penyebaran sapi Bali
ke Lombok dilakukan pada abad ke 19 yang dibawa oleh raja-raja pada jaman itu
(Hardjosubroto dan Astuti, 1993) dan sampai ke pulau Timor antara tahun 1912
dan 1920. Selanjutnya dinyatakan bahwa penyebaran ke banyak wilayah di
Indonesia dilakukan pada tahun 1962.
Ternak Potong (Ruminansia Kecil)
Domba atau biri-biri (Ovis) adalah ruminansia dengan rambut tebal dan dikenal orang banyak karena dipelihara untuk
dimanfaatkan rambut (disebut wol), daging, dan susunya. Yang paling dikenal
orang adalah domba peliharaan (Ovis
aries), yang diduga keturunan dari moufflon liar dari Asia Tengah selatan dan barat-daya. Untuk tipe lain
dari domba dan kerabat dekatnya, lihat kambing antilop. Domba berbeda dengan kambing.
Sejarah Domba Domba seperti halnya kambing, sapi dan kerbau, tergolong
dalam family Bavidae, Domba merupakan salah satu ternak yang diusahakan oleh
peternak dalam skala kecil di pedesaan .(Toelihere,1977) Domba merupakan ternak ruminansia kecil yang potensial
sebagai penghasil daging, wol dan susu (Blakely,1994).domba dan kambing pada hakikatnya merupakan 2 genus dari
Bavidae yang berdekatan meskipun demikian, ada perbedaan yang mencolok yakni
domba dan kambing tidak dapat dikawin silangkan.ciri domba yang paling gampng
diamati adalah tanduk domba berpenampang segitiga yang tumbuh melilit seperti seiral.
Beberapa jenis domba yang tersebar di indonesia seperti :
- Domba ekor gemuk
- Domba ekor tipis
- Domba Garut
- Domba Pariangan
- Domba Kampung
A.2.2 Pakan
Dalam usaha peternakan, pakan merupakan faktor yang sangat
penting dalam pengembangannya. Ternak membutuhkan pakan untuk kelangsungan
hidup, produksi dan reproduksi, untuk itu harus cukup tersedia pakan yang baik
kualitas, kuantitas dan kontinyutasnya. Kebutuhan ternak akan pakan sangat
bervariasi tergantung dari tujuan usaha yang dijalankan. Untuk ternak
ruminansia hijauan merupakan pakan utama, ketersediaan hijauan, dipengaruhi
oleh banyak faktor salah satu diantaranya iklim. Tanaman hijauan pakan ternak
khusus hijauan leguminosa (Lima, 2012).
Hijauan makanan ternak merupakan salah satu bahan pakan
yang terdiri dari daun daunan, bercampur dengan ranting maupun bunga yang
diberikan dalam keadaan segar. Hijauan ini terdiri dari rerumputan (gramineae),
leguminoceae dan hijauan dari tanaman yang lain (Astuti, 2006).
Suatu usaha untuk dapat meningkatkan keuntungan yang lebih
besar dari usaha peternakan ditekankan pada pemberian hijauan pakan semaksimal
mungkin dengan mengurangi ketergantungan pada makanan penguat, untuk itu
dibutuhkan hijauan pakan dengan produksi yang tinggi dan kualitas baik
(Reksohadiprojo, 1994).
Hijauan pakan ternak adalah segala macam hijauan dari
tumbuhtumbuhan atau tanaman yang dapat dimakan oleh ternak tanpa mengganggu
kesehatan ternak tersebut, serta dapat dimanfaatkan untuk proses pertumbuhan,
bereproduksi, dan berproduksi. Hijauan pakan ternak merupakan salah satu bahan
pakan ternak yang sangat diperlukan dan besar manfaatnya bagi kehidupan ternak
terutama ternak ruminansia. Sofyan (2010) menyatakan bahwa ternak ruminansia,
hijauan merupakan pakan utamanya. Kebutuhan pokok konsumsi hijauan makanan
ternak untuk setiap harinya 10% dari bobot badan ternak.
Hijauan pakan yang
diberikan oleh sebagian besar peternakan desa di Indonesia berupa rumput alam
seperti; Axonopus compressus, Paspalum sp, Leersia hexandra, Brachiaria sp, Ludwigia
perennis, Cyperus kyllingia, Malestoma affine, Amaranthus spinosus, Nephrolepis
sp, Ottochloa nodosa, Panicum repens, Eleusine indic Sedangkan hijauan unggul
seperti Pennisetum purpureum, Panicum maximum, Pennisetum purphupoides, Setaria
spachelata masih sedikit, hal ini
disebabkan keterbatasanrumput ungggul (Syarifuddin, 2011).
Dalam usaha peternakan, pemilihan bibit
mempunyai arti penting untuk mendukung keberhasilan usaha yang bersifat
komersil, sedangkan dari segi pemeliharaannya akan memperlancar dari tujuan
utama ternak di Indonesia sapi dimanfaatkan untuk diambil dagingnya dan domba
lebih dimanfaatkan sebagai penghasil daging dan sebagian kecil wol
(Adjisoedarmo, 1984). Menurut Sarwono (2005) sapi dan domba membutuhkan hijauan
yang banyak ragamnya, sapi banyak menyukai hijauan rumput, domba sangat
menyukai hijauan dan daun-daunan seperti daun turi, akasia, lamtoro, kaliandra
dan rerumputan. Selain pakan dalam bentuk hijauan, sapid an domba juga
memerlukan pakan penguat untuk mencukupi kebutuhan gizinya. Pakan penguat dapat
terdiri dari satu macam bahan seperti dedak, bekatul padi, jagung, pelet, atau
ampas tahu dan dapat juga dengan mencapurkan beberapa bahan tersebut. Kebutuhan
ternak ruminansia terhadap pakan, dicerminkan oleh kebutuhannya terhadap
nutrisi dan gizinya. Jumlah kebutuhan nutrisi setiap harinya sangat tergantung
pada jenis ternak, umur, bangsa, fase (pertumbuhan, dewasa, bunting atau
menyusui), kondisi tubuh (sehat atau sakit) dan iklim (temperatut dan
kelembapan udara).
Menyatakan kebutuhan pakan domba
meningkat selama domba dalam masa pertumbuhan bobot badan pada masa
kebuntingan, rumput mengambil peranan penting dalam pakan ternak dan dapat juga
diberikan dalam jumlah besar, lagi pula mudah didapat dimana-mana. Rumput
mengandung semua zat pakan yang dibutuhkan oleh ternak ruminansia besar dan
kecil.
kebutuhan Pakan ternak Domba per Ekor dalam satu hari menurut kondisi
ternak.
|
Kondisi ternak
|
Jenis pakan
|
||
|
Rumput
|
Daun – daun
|
Kosentrat
|
|
|
Dewasa
|
75%
|
25%
|
-
|
|
Induk buntuing
|
60%
|
40%
|
2 – 3 gelas
|
|
Induk menyusui
|
50%
|
50%
|
2 – 3 gelas
|
|
Anak sebelum disapih
|
50%
|
50%
|
-
|
|
Anak lepas sapih
|
60%
|
40%
|
0,5 – 1 gelas
|
A.2.3 Kandang
Untuk menuju usaha ternak yang
berhasil harus dimulai dari membuat kandang, karena kandang merupakan tempat
dimana sapi akan menghabiskan sebagian besar waktunya, terutama sapi-sapi yang
digemukan di kandang. Kandang yang baik tidak selalu harus dibuat dari
bahan-bahan yang mahal, karena dapat dibuat dengan memanfaatkan bahan-bahan
yang terdapat di sekitar kita, misalnya menggunakan bambu, batang kayu yang
cukup besar, dan bahkan untuk atap dapat menggunakan rumbia/alang-alang. Namun
demikian, bahan yang dianjurkan adalah bahan yang dapat bertahan lama.
Kandang berfungsi sebagai tempat
tinggal ternak untuk melindungi dari pengaruh buruk iklim (hujan, panas, angin,
temperatur) dan gangguan lainnya seperti hewan liar dan pencurian ternak.Agar
ternak dapat berproduksi secara optimal maka kandang harus mampu memberikan
tempat yang nyaman bagi ternak.Dalam pembuatan kandang ada tiga faktor yang
harus dipertimbangkan yaitu faktor biologis, faktor teknis dan ekonomis.
Dalam membuat kandang (yang
sederhana sekalipun) dituntut untuk dapat memenuhi syarat-syarat yang
ditentukan. Untuk hal ini, perlu diperhatikan beberapa aspek yang diuraikan di
bawah ini:
A.2.3.1 Tata Letak Kandang
Bangunan kandang sebaiknya dibuat
dengan jarak 6-10 m dari rumah, dan jangan sampai mendirikan kandang yang
berhimpitan dengan rumah kita. Ventilasi udara kandang dapat mengalir dengan
lancar dan seyogyanya dapat diusahakan untuk menghadapkan kandang ke Timur agar
sinar matahari pagi dapat menyinari kandang dan bagian dalamnya. Kandang
sebagai pelindung ternak harus dapat melindungi ternak dari panas, hujan, dan
terpaan angin secara langsung yang kuat, terutama di malam hari.
A.2.3.2 Ukuran dan Bentuk
Kandang
Ruangan kandang yang dibutuhkan
agar sapi dapat leluasa serta nyaman untuk tinggal di dalamnya adalah sekitar
1,8 x 2 m2/ekor.
A.2.3.3 Lantai dan Atap Kandang
Prinsip didalam pembuatan lantai
kandang adalah mengkondisikan agar kandang selalu kering atau tidak becek,
sehingga dalam pembuatannya agar memperhatikan kemungkinan tergenangnya air
seni dan kotoran. Untuk itu, lantai kandang diusahakan dibuat dari bahan yang
padat, misalnya dengan lantai semen, atau dengan tanah yang dipadatkan. Untuk
menghindari tergenangnya air seni, lantai kandang harus dibuat miring, yang
kemudian dibagian paling rendah dibuat parit untuk menyalurkan air seni ke bak
penampung.
Untuk melindungi ternak dari
panas dan hujan, kandang harus dilengkapi dengan atap, yang dapat menggunakan
genteng atau seng, atau secara sederhana dapat memanfaatkan daun rumbia atau
alang-alang.
A.2.3.4 Perlengkapan Kandang
Kandang yang baik haruslah dapat memberikan rasa yang nyaman untuk ternak.
Untuk itu, perlengkapan kandang seperti tempat pakan dan minum harus
disediakan. Pakan ternak, baik hijauan maupun konsentrat (misalnya dedak, ampas
tahu) tidak dapat diletakkan begitu saja, karena pakan yang diletakkan begitu
saja dapat tercampur kotoran sapi dan tercemar telur cacing yang dapat
mengganggu kesehatan ternak. Tempat pakan dan minum diusahakan agar tidak mudah
kena kotoran sapi, sehingga sering diletakkan di bagian depan (kepala) untuk
sapi yang diikat atau diletakkan di sisi luar pembatas kandang. Fasilitas lain
yang seyogyanya tersedia adalah kandang jepit (kandang sempit) yang berguna
untuk penanganan pengobatan atau layanan perkawinan. menggunakan peralatan seperti
ember, timbangan, pita meter, arit
(sabit rumput), pita meter, hydrometer, thermometer, togkat ukur, sapu
lidi, dan gunting.
A.2.3.5 Pemeliharaan Kandang
Kandang sapi harus dibersihkan
setiap hari, dan kotoran sapi harus ditampung di tempat penampungan kotoran
sehingga tidak mengganggu aliran air seni menuju bak penampungan air seni.
Penampungan kotoran harus dibuat sedemikian rupa agar kotoran sapi tersebut
tidak mengganggu lingkungan dan dapat dimanfaatkan sebagai pupuk kandang. Untuk
mencegah agar kotoran sapi tidak mengganggu lingkungan dan pupuk kandang yang
dihasilkan mempunyai kualitas yang baik, kotoran sapi yang ditampung di
penampungan haruslah dilindungi dari air hujan dengan memberi atap yang
sederhana.
A.3 METODE
1. Pengukuran produksi
Mengukur berat badan
Pengukuran
berat badan ternak sapi menggunakan timbangan alplex,sedangkan pada domba
menggunakan timbangan manual.
Mengukur lingkar dada
Lingkar
dada sapi dan domba di ukur dengan cara melingkarkan pita meter pada tulang
rusuk paling depan persis pada belakang kaki depan.
Mengukur Tinggi Gumba
Tinggi
panggul adalah jarak tegak lurus dari tanah sampai dengan puncak gumba atau
di belakang punuk untuk sapi.Menggukur
tinggi panggul atau tinggi gumba dengan cara menempatkan mistar ukur tegak
lurus dan pastikan bagian horizontal dari mistar persis berada di atas gumba.
Mengukur Tinggi Badan
Menggukur
tinggi badan pada ternak sapi dan domba dengan cara menempatkan mistar ukur
tegak lurus dan pastikan bagian horizontal dari mistar persis berada di atas
badan.
Mengukur Panjang Badan
Panjang
badan adalah panjang dari titik bahu ke tulang duduk (pin bone). Menggukur
panjang badan pada ternak sapi dan domba dengan cara menempatkan mistar ukur
pada bagian titik bahu sampai pada tulang duduk.
Pengukuran Konsumsi pakan hijauan dan kosentrat
Hijauan
pada ternak sapi dan domba diberikan 10% dari berat badan sedangkan kosentrat
diberikan 1% dari berat badan.
2. Fisiologis
Respirasi
Mengukur
Respirasi pada ternak sapi dan domba
dengan cara meletakan punggung tangan dekat hidung dan dengan cara melihat
kembang kempisnya perut.
Denyut nadi
Mengukur
denyut nadi dengan cara palpasi yaitu dengan menggunakan ujung jari tangan
disepanjang jalannya pembuluh darah arteri, terutama pada tempat- tempat
tonjolan tulang dengan sedikit menekan diatas pembuluh darah arteri atau dengan
cara merasakan denyut nadi pada bagian dalam bagian atas kaki belakang.
Temperature rektal
Mengukur
temperatur rektal menggunakan termometer dengan derajat celcius. Dengan suhu
normal tubuh adalah 37 ° C mengukur temperature rektal dengan cara memindahkan
ekor ke samping. Metakkan termometer dengan hati-hati ke dalam anus, dengan
memegang termometer pada sudut sehingga menyentuh dinding rektum.
Lingkungan
Mengukur
lingkungan mengunakan termometer dan hydrometer.termometer di gunakan untuk
mengukur suhu dengan cara mengantung termometer di dalam atau didekat
kandang.sedangkan hydrometer di gunakan untuk mengukur kelembaban dengan cara
mengantung hydrometer di dalam atau di dekat kandang.
Kondisi lingkungan
Mengukur
lingkungan mengunakan termometer dan hydrometer.termometer di gunakan untuk
mengukur suhu dengan cara mengantung termometer di dalam atau didekat
kandang.sedangkan hydrometer di gunakan untuk mengukur kelembaban dengan cara
mengantung hydrometer di dalam atau di dekat kandang
Pengukuran umur
Mengukur atau menduga umur sapi dan domba dengan cara
melihat pertumbuhan gigi.
Body Condition Score (BCS)
BCS adalah nilai kondisi tubuh yang didasarkan pada estimasi
visual timbunan lemak tubuh dibawah kulit sekitar pangkal ekor, tulang
punggung, tulang rusuk dan pinggul lemak, dapat digunakan untuk prediksi dini
status kesenjangan energi sapi perah selama awal laktasi. Penilaian kondisi
tubuh ternak, terutama untuk sapi perah di Indonesia masih jarang dilakukan
sehingga untuk kondisi peternakan sapi perah rakyat sangat penting (Hayati,
dkk, 2002).
Skor 0-5
diberikan atas dasar lemak yang dapat didasarkan pada daerah pelvis dan
sacralis. Skor 0 menggambarkan sapi yang sangat kurus, skor 5 untuk sapi yang
sangat gemuk. Secara umum telah disetujui bahwa induk sapi perah mempunyai
rata-rata BCS
BAB II
HASIL DAN PEMBAHASAN
B.1 KONSUMSI PAKAN
Hijauan dan Konsentrat
Hasil pegamatan pada
sapi Kelompok 2 Shift 1
|
Hari ke…
|
Tanggal
|
Pakan
|
Konsumsi (kg/hari)
|
|||
|
Pemberian Awal
|
Tambahan
|
Sisa
|
Konsumsi
|
|||
|
1
|
15-Sep-14
|
Rumput
|
10 Kg
|
10 Kg
|
4 Kg
|
16 Kg
|
|
Konsentrat
|
|
|
|
|
||
|
Air Minum
|
8 Kg
|
8 Kg
|
4 Kg
|
12 Kg
|
||
|
2
|
16-Sep-14
|
Rumput
|
10 Kg
|
13 Kg
|
3 Kg
|
20 Kg
|
|
Konsentrat
|
|
|
|
|
||
|
Air Minum
|
4 Kg
|
4 Kg
|
1,5 Kg
|
6,5 Kg
|
||
|
3
|
17-Sep-14
|
Rumput
|
7,5 Kg
|
13,5 Kg
|
4 Kg
|
17 kg
|
|
Konsentrat
|
23Cap
|
|
5 Cup
|
18 Cup
|
||
|
Air Minum
|
8 Kg
|
16 Kg
|
4 Kg
|
20 Kg
|
||
|
4
|
18-Sep-14
|
Rumput
|
9 kg
|
15 kg
|
4 Kg
|
23 Kg
|
|
Konsentrat
|
23 Cup
|
|
7 Cup
|
16 Cup
|
||
|
Air Minum
|
8 Kg
|
8 Kg
|
3 Kg
|
12 Kg
|
||
|
5
|
19-Sep-14
|
Rumput
|
11 Kg
|
5 Kg
|
2 Kg
|
13 Kg
|
|
Konsentrat
|
7 Cup
|
12 Cup
|
2 Cup
|
17 Cup
|
||
|
Air Minum
|
8 Kg
|
8 Kg
|
1 Kg
|
16 Kg
|
||
|
6
|
25-Sep-14
|
Rumput
|
10 Kg
|
15 Kg
|
6 Kg
|
19 Kg
|
|
Konsentrat
|
2 Kg
|
|
7 Ons
|
1,3 Kg
|
||
|
Air Minum
|
8 Kg
|
4 Kg
|
3 Kg
|
9 Kg
|
||
Hasil pegamatan pada
domba Kelompok 2 Shift dua
|
Hari ke…
|
Tanggal
|
Pakan
|
Konsumsi (kg/hari)
|
|||
|
Pemberian Awal
|
Tambahan
|
Sisa
|
Konsumsi
|
|||
|
1
|
20-Sep-14
|
Rumput
|
|
|
|
|
|
Konsentrat
|
|
|
|
|
||
|
Air Minum
|
|
|
|
|
||
|
2
|
21-Sep-14
|
Rumput
|
|
|
|
|
|
Konsentrat
|
|
|
|
|
||
|
Air Minum
|
|
|
|
|
||
|
3
|
22-Sep-14
|
Rumput
|
|
|
|
|
|
Konsentrat
|
|
|
|
|
||
|
Air Minum
|
|
|
|
|
||
|
4
|
23-Sep-14
|
Rumput
|
|
|
|
|
|
Konsentrat
|
|
|
|
|
||
|
Air Minum
|
|
|
|
|
||
|
5
|
24-Sep-14
|
Rumput
|
|
|
|
|
|
Konsentrat
|
|
|
|
|
||
|
Air Minum
|
|
|
|
|
||
|
6
|
25-Sep-14
|
Rumput
|
|
|
|
|
|
Konsentrat
|
|
|
|
|
||
|
Air Minum
|
|
|
|
|
||
B.2 PRODUKSI
Hasil
pegamatan pada sapi Kelompok 2 Shift 1
|
Hari ke…
|
Tanggal
|
Berat Badan Kg
|
Tinggi Badan (cm)
|
Panjang Badan (cm)
|
Lingkar dada (cm)
|
|
1
|
15-Sep-14
|
176
|
111
|
109
|
142
|
|
2
|
16-Sep-14
|
|
112
|
111
|
142
|
|
3
|
17-Sep-14
|
|
112
|
111
|
143
|
|
4
|
18-Sep-14
|
|
112
|
113
|
145
|
|
5
|
19-Sep-14
|
190
|
112
|
113
|
146
|
|
6
|
25-Sep-14
|
191
|
118
|
121
|
146
|
Umur Ternak Domba :
Lingkar Scrotum :
Hasil
pegamatan pada Domba Kelompok 2 Shift 2
|
Hari ke…
|
Tanggal
|
Berat Badan Kg
|
Tinggi Badan (cm)
|
Panjang Badan (cm)
|
Lingkar dada (cm)
|
|
1
|
20-Sep-14
|
|
|
|
|
|
2
|
21-Sep-14
|
|
|
|
|
|
3
|
22-Sep-14
|
|
|
|
|
|
4
|
23-Sep-14
|
|
|
|
|
|
5
|
24-Sep-14
|
|
|
|
|
|
6
|
25-Sep-14
|
|
|
|
|
Umur Ternak Domba :
Lingkar Scrotum :
B.3 FISIOLOGI
Hasil
pegamatan pada sapi Kelompok 2 Shift 1
|
Hari ke…
|
Tanggal
|
Waktu
|
Pengukuran Fisiologi
|
Pengukuran Lingkungan
|
||||
|
Respirasi (x/menit)
|
Denyut Jantung (x/menit)
|
Temperatur Rektal (oC)
|
Temperatur Udara (oC)
|
Kelembapan Udara (%)
|
||||
|
1
|
15-Sep-14
|
Pagi
|
38
|
52
|
|
25
|
|
|
|
Siang
|
44
|
52
|
|
29
|
|
|||
|
Sore
|
30
|
58
|
|
30
|
|
|||
|
2
|
16-Sep-14
|
Pagi
|
38
|
42
|
37,3
|
24
|
|
|
|
Siang
|
48
|
64
|
|
29
|
|
|||
|
Sore
|
32
|
42
|
|
30
|
40%
|
|||
|
3
|
17-Sep-14
|
Pagi
|
24
|
44
|
37,9
|
25
|
|
|
|
Siang
|
14
|
80
|
|
33
|
|
|||
|
Sore
|
26
|
62
|
|
30
|
|
|||
|
4
|
18-Sep-14
|
Pagi
|
20
|
62
|
38
|
25
|
|
|
|
Siang
|
34
|
62
|
|
31
|
|
|||
|
Sore
|
22
|
62
|
|
34
|
|
|||
|
5
|
19-Sep-14
|
Pagi
|
30
|
60
|
37,5
|
27
|
|
|
|
Siang
|
30
|
68
|
|
34
|
|
|||
|
Sore
|
32
|
62
|
|
31
|
|
|||
|
6
|
25-Sep-14
|
Pagi
|
24
|
62
|
37
|
25
|
|
|
|
Siang
|
36
|
66
|
|
32
|
|
|||
|
Sore
|
24
|
68
|
|
31
|
|
|||
Hasil
pegamatan pada domba Kelompok 2 Shift dua
|
Tanggal
|
waktu
|
Pengukuran Fisiologi
|
Pengukuran Lingkungan
|
||||
|
Respirasi (x/menit)
|
Denyut Jantung (x/menit)
|
Temperatur Rektal (oC)
|
Temperatur Udara (oC)
|
Kelembapan Udara (%)
|
|||
|
20-Sep-14
|
Pagi
|
|
|
|
|
|
|
|
Siang
|
|
|
|
|
|
||
|
Sore
|
|
|
|
|
|
||
|
21-Sep-14
|
Pagi
|
|
|
|
|
|
|
|
Siang
|
|
|
|
|
|
||
|
Sore
|
|
|
|
|
|
||
|
22-Sep-14
|
Pagi
|
|
|
|
|
|
|
|
Siang
|
|
|
|
|
|
||
|
Sore
|
|
|
|
|
|
||
|
23-Sep-14
|
Pagi
|
|
|
|
|
|
|
|
Siang
|
|
|
|
|
|
||
|
Sore
|
|
|
|
|
|
||
|
24-Sep-14
|
Pagi
|
|
|
|
|
|
|
|
Siang
|
|
|
|
|
|
||
|
Sore
|
|
|
|
|
|
||
|
25-Sep-14
|
Pagi
|
|
|
|
|
|
|
|
Siang
|
|
|
|
|
|
||
|
Sore
|
|
|
|
|
|
||
B.4 Umur ternak dan Estimasi BCS
PEMBAHASAN
Pada sapi
Dalam pratikum MK produksi ternak potong
dan kerja yang kami lakukan dikandang peternakan dilakukan mulai dari tanggal
23 november 2010,menggunakan 1 ekor sapi
yaitu sapi PO betina Yang berumur 25 bulan yang memiliki anak berumur + 4 bulan dengan pemberian pakan dilakukan pada
waktu pagi siang dan sore.adapun rumput yang diberikan pada ternak yaitu
menggunakan hijauan dari lapangan (rumput lapanggan ) selain rumput juga
menggunakan kosentrat yaitu dedak.untuk pemberian pakan khususnya hijauan yaitu
sebanyak 10% dari berat badan, untuk konsentrat sebanyak 1% dari berat badan.
Untuk mengetahui berat badan ternak potong diukur dengan menggunakan timbangan
elektik.pada penimbanagn pertama berat badan ternak yaitu 206 kg\ sebelum
diberi perlakuan khusus.setelah diberi perlakuan khusus berat masih tetap itu
diketahui setelah penimbangan terakhir kemungkinan berat tarsebut ngak
bertambah dikaranakan ternak tersebut masih menyusui, selain member makan
ternak juga diberi minum tapi pada
pemberian minum tidak di tentukan seperti pemberian pakan yang terpenting cukup
untuk ternak.
Untuk pengukuran lingkar dada
menggunakan pita meter pada pengukuran pertama lingar dada sapi sapi yaitu 144
setelah diberi perlakuan lingkar dada bertambah menjadi 148, sedangkan untuk
mengetaghui tinggi gumbah kami melakukan pengukuran dengan menggunakan meter
yang berbentuk tongkat, mengapa menggunakan meteran tersebut karena meteran
tersebut menurut kami meteran tersebut akurat. Pada pengukuran pertama tinggi
gumbah 112 setelah pemberian perlakuan tinggi gumba bertambah menjadi 113.itu
diketahui setelah pengukuran terakhir.
Untuk mengetahui kesehatan ternak
dilakukan pengukuran respirsi denagan cara meletakan tangan dihidung ternak
yang hasilnya dapat dilihat pada table fisiologi ternak sapi.
Pada domba
Untuk pembahasan domba hampir sama dengan dengan sapi tapi
untuk domba yang membedakan adalah pengukuran rectal dan pencukuran wol.
Pada pratikum MK produksi ternak potong
dan kerja mengunakan domba garut jantan diperkirakan berumur 27 bulan berat
pada penimbangan pertama sebelum diberi perlakuan adalah 27,5 kg setelah
diberiperlakuan berat badan ternak naik rata-rata 1,2 kg ntuk pemberian pakan
menggunakan hijaan lapan dan kosentrat. Untuk hijauan diberi 10% dari
BB.sedangkan utuk kosentrat diberi sebanyak 1% dari BB,
Fisiologi
Untuk mendeteksi kemungkinan ternak
tersebut sakit atau sehat, mengukur suhu rectal
salah satu cara yang dapat
dipakai. pada ternak domba suhu rectal yang normal berkisar 37%,mengetahui respirasi bertujuan
mendeteksi kemungkinan ternak tersebut setres atau tidak. Wol pada ternak domba
merupakan alat pelindung kulit dari iklim,apa bila wol tersebut terlalu panjang
itu juga kurang baik untuk ternak, apa bila wol lengket dg peses bisa
mengganggu kesehatan ternak itu sendiri, pada pencukuran wol berat wol yang
telah dicukur saeberat 0,1 kg.
BAB III
KESIMPULAN dan SARAN
DAFTAR PUSTAKA
Departemen Pertanian, 2006. Peraturan Menteri Pertanian Nomor
54/Permentan/OT.140/10/2006 tentang
Pedoman Pembibitan Sapi Potong yang Baik (Good Breeding Practice)
.
Hidayat. 2010. Beternak Sapi Bali. Jurusan Peternakan
Universitas Bengkulu. Bengkulu
Suryana.2009 pengembangan usaha ternak sapi potong
Berorientasi agribisnis dengan pola Kemitraan. Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Kalimantan Selatan
(Blakely,1994).
Sofyan A., 2010. Pedoman Teknis Perluasan Areal Kebun
Hijauan
Makanan Ternak. Kementerian Pertanian,
Jakarta.
Lima, D. D.
2012. pengaruh waktu perendaman dalam
air panas terhadap daya kecambah leguminosa centro (centrosema pubescens)
dan siratro (macroptilium atropurpureum). Jurusan Peternakan
Fakultas Pertanian Universitas Pattimura. Agrinimal, Vol. 2, No. 1, April 2012,
Hal. 26-29
Syarifuddin H.2011. komposisi dan struktur hijauan pakan ternak di bawah
perkebunan kelapa sawit. Laboratorium Hijauan Makanan Ternak Fakultas Peternakan Universitas Jambi. AGRINAK. Vol. 01 No.1 September 2011:25–30.
Astuti .N,.
2006. Pengaruh Umur Pemotongan Terhadap
Kandungan Nutrien Rumput Raja (king
grass). Prodi
peternakan, fak. Agroindustri, univ. Mercu buana yogyakarta
Reksohadiprodjo .S., 1994. Produksi
Tanaman Hijauan Makanan Ternak, Edisi 3. Penerbit BPFE. Yogyakarta.
LAMPIRAN
DAFTAR PUSTKA

No comments:
Post a Comment