MK
MANAJEMEN TERNAK POTONG
Oleh :
Nama : Abdurrahman
NPM : E1C013101
Kelompok : 14
Jurusan Peternakan – Fakultas Pertanian
Universitas Bengkulu
Juni 2015
KATA PENGANTAR
Puji syukut saya panjatkan kehadiran Allah SWT, atas rahmat dan hidayahNya
saya dapat menyelesaikan laporan akhir praktikum MK Manajemen Ternak Potong dan
Kerja dengan lancar. Saya mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada
semua pihak yang telah memberikan bantuan dalam menyelesaian laporan akhir MK
Manajemen Ternak Potong dan Kerja terutama kepada asisten dan dosen pembimbing
MK Manajemen Ternak Potong dan Kerja yang telah membimbing selama kegiatan
praktikum berlangsung.
Laporan akhir praktikum MK Manajemen Ternak Potong dan Kerja merupakan
hasil praktikum yang telah dilaksanakan sebelumnya, untuk menambah wawasan
tentang MK Manajemen Ternak Potong dan Kerja sebagai salah satu syarat dalam
penilaian praktikum. Meskipun telah disusun dengan cermat, tidak tertutup
kemungkinan bahwa didalam laporan akhir MK Manajemen Ternak Potong dan Kerja
ini masih terdapat sejumlah kekeliruan. Untuk itu segala kritik dan saran
diperlukan demi terwujudnya laporan akhir praktikum MK Manajemen Ternak Potong
dan Kerja yang lebih baik diwaktu mendatang. Dengan kerendahan hati segala
hormat, saya mengucapkan banyak beribu terima kasih yang sebesar-besarnya
kepada :
1.
Dr. Ir
Dwatmadji, M.Sc (selaku penanggung jawab di mata kuliah manajemen ternak potong
dan kerja) yang telah memberikan fasilitas yang mendukung semua aspek dalam
pembuatan laporan.
2.
Kedua orang tua
saya yang telah melahirkan saya dan senantiasa memberikan dukungan moral dan
material untuk pembuatan laporan ini. Saya dedikasikan laporan ini untuk kalian
ayah dan ibu tercinta.
3.
Alexander
Giovanni, Ayun Andi Rahmah, Galih Ardiansyah, Rati Tri Ulansari selaku
satu kelompok 14 yang menemani saya
dalam suka maupun duka, semangat teman-teman.
4. Teman-teman angkatan 2013 jurusan peternakan yang menjadi kawan
seperjuangan.
5.
Adik-adik
tingkat semua yang membantu dan mendukung saya selama ini.
Bengkulu, Juni 2015
ABDURRAHMAN
E1C013101
DAFTAR ISI
A. PENDAHULUAN
a. 1 Latar Belakang
Domba atau biri-biri (ovis) adalah ruminansia dengan rambut tebal dan
dikenal orang banyak karena dipelihara untuk dimanfaatkan rambut (disebut wol),
daging, dan susunya. Yang paling dikenal orang adalah domba peliharaan (ovis
aries), yang yang diduga keturunan dan moufflon liar dari Asia Tengah Selatan
dan Barat Daya. Untuk tipe lain dari domba dan kerabat dekatnya. Domba berbeda dengan
kembing.
Klasifikasi Ilmiah
Kerajaan :
Animalia
Filum :
Chordata
Kelas :
Mamalia
Ordo :
Ungulata
Famili :
Coroviane
Upafamili :
Artiodactylata
Genus : Ovis
Spesies : Ovis
Orientalisi
Sejarah Domba Domba seperti halnya kambing, sapi dan kerbau, tergolong dalam family
Bavidae, Domba merupakan salah satu
ternak yang diusahakan oleh peternak dalam skala kecil di pedesaan
.(Toelihere,1977) Domba merupakan ternak ruminansia kecil yang
potensial sebagai penghasil daging, wol dan susu (Blakely,1994).domba dan kambing pada hakikatnya merupakan 2 genus dari Bavidae yang berdekatan meskipun demikian,
ada perbedaan yang mencolok yakni domba dan kambing tidak dapat dikawin
silangkan.ciri domba yang paling gampng diamati adalah tanduk domba berpenampang
segitiga yang tumbuh melilit seperti seiral.
Beberapa jenis domba yang tersebar di indonesia seperti :
- Domba ekor
gemuk
- Domba ekor
tipis
- Domba
Garut
- Domba
Pariangan
- Domba
Kampung
Domba adalah salah satu ternak penghasil daging yang cukup potensial untuk
dikembangkan di Indonesia. Ternak domba memiliki potensi yang cukup baik untuk
dikembangkan menjadi salah satu ternak penghasil daging di dalam negeri. Dagng
yang dihasilkan oleh ternak domba memiliki kualitas yang cukup baik. Jika
dibandingkan dengan daging sapi dan kambing, daging yang dihasilkan oleh ternak
domba tidak jauh berbeda.
Ternak domba dapat hidup dinegara beriklim tropis seperti di Indonesia.
Kebutuhan pakan ternak domba juga tidak terlalu jauh berbeda dengan kebutuhan
ternak potong lainnya. Pertumbuhan ternak domba dapat berlangsung dengan cepat
apabia pemeliharaannya sesuai dengan teknis semestinya. Beternak domba memiliki
peluang yang cukup bagus untuk dikembangkan karena dapat menyumbangkan swadaya
daging untuk memenuhi kebutuhan daging magi masyarakat Indonesia. Iklim di
Indonesia cukup baik untuk penanaman hijauan pakan tidak akan ada kendala.
Selain daging domba juga dapat menghasilkan produk lain yang dapat
dihasilkan seperti woll dan feses (dalam bentuk kompos). Jika usaha ternak
domba ini ditekuni dengan benar dapat menghasilkan keuntungan yang sangat
banyak, tetapi banyak usaha ternak domba ini biasanya dikembangbiaakan hanya
untuk diambil dagingnya saja. Usaha ternak domba di Indonesia ternyata belum
telalu diminati oleh kalangan masyarakat dari usaha ternak domba ini hanya
sebagai usaha sampingan untuk tabungan rumah tangga, pemeliharaan sekitar 4
sampai 6 ekor saja.
Usaha penggemukkan ternak domba membutuhkan lahan yang cukup luas tergantung
jumlah ternak domba yang akan digemukkan. Ternak domba biasa dipelihara dengan
sistem pastura fallening, yaitu dilepas di padang gembala pada saat siang hari
dan malam harinya diletakkan didalam kandang. Di Indonesia adalah negara yang
memiliki lahan yang cukup luas untuk dijadikan lahan usaha penggemukkan ternak
seperti ternak domba.namun potensi lahan yang begitu baik ini belum sepenuhnya
dimanfaatkan pemerintah untuk mendirikan usaha yang berbasis penggemukkan
ternak yang hasil diharapkan dapat memenuhi kebutuhan daging didalam
negerisehingga nilai impor daging di Indonesia dapat dikurangi.
Adanya potensi yang kita miliki sudah sewajarnya jika kita mengembangkan
produk ternak potong, agar dapat memenuhi kebutuhan protein hewani. Kegiatan
yang dilakukan pada saat praktikum mata kuliah manajemen ternak potong dan
kerja antara lain pembuatan diagram breeding menggunakan kertas milimeter
dengan lebar ± 1 m dan panjang ± 2 m. Pengamatan manajemen aspek pengeluaran
biaya, manajemen pemeliharaan bibit awal atau generasi pertama, manajemen
perkandangan, manajemen lahan HPT, manajemen pecegahan penyakit dan
obat-obatan, manajemen hijauan pakan ternak dan konsentrat, manajemen penangan
limbah seperti feses diolah menjadi kompos dan aspek pemasukkan biaya atau
keuntungan. Hal ini yang melatar belakangi pelaksanaan praktikum manajemen
ternak potong.
a. 2 Tujuan Praktikum
1.
Mahasiswa dapat
memanajemenkan bagaimana cara mengetahui perhitungan populasi ternak domba dari
perkawinan, lama estrus, lama bunting, service per conception, littersie, lama
menyusui, lama dewasa tubuh sampai dikawinkan.
2.
Untuk dapat
mengetahui bagaimana potensi penggemukan usaha peternakan domba dalam skala
besar dalam perhitungan HPT dan konsentrat, kebutuhan lahan untuk HPT, obat-
obatan, produksi kompos, kebutuhan karyawan dan gaji yang harus dikeluarkan,
kebutuhan kandang, penjualan ternak jantan dan asumsi perhitungan ekonomi
untung dan rugi.
B. ASUMSI UNTUK DIAGRAM BREEDING DAN PERHITUNGAN USAHA
b.1 Asumsi Untuk Diagram Breeding
1.
Service per
conception : 1,7 kawin
2.
Lama estrus : 1,7 x 17 hari =
28,9 hari
3.
Lama bunting : 152 hari
4.
Littersize : 2,4 jumlah
anak
5.
Jumlah bibit
awal betina : 12050 ekor
6.
Jumlah bibit
awal jantan : 1205 ekor 10% dari
jumlah bibit betina
7.
Lama menyusui : 60 hari
8.
Umur dewasa
tubuh : 6,5 bulan
b.2 Asumsi Perhitungan Usaha Ekonomi
1.
Berat ternak
dewasa jantan = 40 kg, berina = 30 kg.
2.
Berat ternak
anak jantan = 20 kg, betina = 15 kg.
3.
Harga beli
ternak betina = Rp. 750.000.00,-, Jantan = Rp. 800.000.00,-.
4.
Harga lahan Rp.
15.000.000.00,-/ ha. Harga lahan permeter = 15.000.000/10.000 = Rp.
1.500.00,-/m2.
5.
Biaya
obat-obatan Rp. 8.000.00,-/ekor/tahun.
b.2.1 Aspek Pengeluaran Biaya
1.
Kebutuhan
kandang
Satu ekor ternak butuh 4 m2,
harga kandang Rp. 400.000/m2 termasuk meterial dan ongkos tukang.
2.
Kebutuhan pakan
HPT dan konsentrat.
◦ Kebutuhan lahan untuk HPT hanya untuk ternak baru saja.
◦ Kebutuhan pakan HPT segar = 10% x berar badan ternak.
◦ Kebutuhab pakan konsentrat = 10% x konsumsi pakan HPT.
◦ Harga konsentrat Rp. 2.000.00,-/kg.
◦ Produksi HPT = 0.5 kg/m2. Umur panen = 60 hari.
Perhitungan :
◦
Satu ekor domba
jantan berat 40 kg membutuhkan HPT = 10% x 40 kg = 4 kg/hari.
◦
Berapakah luas
lahan minimum yang dibutuhkan untuk menananm HPT.
◦ Kebutuhan lahan perhari = kebutuhan pakan/produksi = 4/0,5 = 8 m2/hari
◦ Jadi kebutuhan minimum selama pemeliharaan = 8x (umur panen) = 8 x 60 = 480
m2.
◦ Harga lahan = 480 x harga lahan/m2.
3.
Perhitungan
gaju karyawan.
◦ Kebutuhan karyawan = 140 ekor ternak/dewasa
◦ Gaji karyawan Rp. 2.500.000.00,-/bulan
b.2.2 Aspek Pemasukkan Biaya.
1.
Penjualan
ternak jantan dan kompos.
◦ Harga jual anak jantan = Rp. 800.000.00,-/ekor.
◦ Produksi kompos (kg) = 5% x dengan berat badan ternak/ hari.
◦ Harga kompos = Rp. 1.500.00,-/kg.
b.2.3 Perhitungan untung rugi.
Pemasukkan – pengeluaran
C. HASIL PRAKTIKUM
Dalam perhitungan populasi perhitungan dimulai dari bibit pertama
(indukan/G0) dengan jumlah untuk ternak domba betina sebanyak 12.050 ekor dan
ternak domba yang jantan sebanyak 1.205 ekor. Jumlah selutuh ternak domba
jantan dan betina di bulan pertama pemeliharaan sebanyak 13.255 ekor setelah 6
bulan pemeliharaan ternak betina melahirkan 50% anakan betina dan 50% anakan
jantan jumlah yang lahir pada tahun pertama sebanyak 28.920 ekor. Dari jumlah
keseluruhan anak dan induk pada tahun pertama 42.175 ekor. Hasil ini yang
merupakan G1 atau generasi pertama dari G0. perhitungan yang sama mulai dari G1
sampai G6 karena berasal dari indukan yang sama yaitu G0
Untuk menghitung jumlah perkelahiran yaitu (jumlah indukan x litter size x
50%). Ternak domba jantan setelah dewasa tubuh dijual sebanyak 90%. Dengan
penjualan 13.014 ekor dan yang tersisa sebanyak 1.446 ekor ternak jantan
dijadikan sebagai induk pejantan. Generasi
yang pertama keturunan dari G1 yaitu G1.1 lahir pada tahun kedua pemeliharaan
bulan ke 7 jumlah seluruh anaknya sebanyak 34.704 ekor. Anak betina 17.352 dan
jantan 17.352 ekor dengan asumsi 50% betina dan 50% jantan. Untuk mengetahui
jumlah perkelahiran yaitu (jumlah indukan x littersize x 50%), Sama seperti
perhitungan populasi G0 sebelumnya setelah dewasa tubuh dijual 90% dari jumlah jantan
demikian pula dengan perhitungan jumlah populasi pada keturunan G1.2, G2.1,
G1.3, G2.2, G3.1, G1.4, G2.3, G3.2 dan G4.1 perhitungannya sampai tahun ke 4
pemeliharaan sama karena berasal dari indukan dengan jumlah yang sama 17.352
ekor.
Generasi selanjutnya yaitu G1.1.1 keturunan berasal dari G1.1 lahir pada
tahun ke 3 pemeliharaan bulan agustus jumlah seluruh anaknya sebanyak 41.644
ekor. Anak betina 20.822 ekor dan jantan 20.822 ekor dengan asumsi 50% betina
dan 50% jantan. Untuk mengetahui jumlah perkelahiran yaitu (jumlah induk x
littersize x 50%) Sama seperti perhitungan populasi G1 sebelumnya setelah dewasa
tubuh dijual 90% dari jumlah kelahiran jantan. Demikian pula dengan perhitungan
jumlah populasi pada keturunan G1.1.2, G1.2.1, G2.1.1, G1.1.3, G1.2.2, G1.3.1,
G2.1.2, G2.2.1 dan G3.1.1 perhitungan sampai tahun ke empat dan seterusnya
pemeliharaan sama karena berasal dari indukan dengan jumlah yang sama 20.822
ekor induk.
c.2 Perhitungan kebutuhan HPT dan konsentrat,
kebutuhan lahan untuk HPT.
Perhitungan kebutuhan HPT yaitu sebanyak 10% dari berat badan perhari untuk
memenuhi kebutuhan hijau menurut berat badan per kg, dengan keterangan untuk
ternak jantan dewasa berat badan 40 kg/ ekor membutuhkan HPT sebanyak 4 kg/hari/ekor,
betina 30 kg ekor membutuhkan HPT sebanyak 3 kg/hari/ekor, ternak anak jantan
20 kg ekor membutuhkan HPT sebanyak 2 kg/hari/ekor dan anak betina 15 kg ekor
membutuhkan HPT sebanyak 1,5 kg/hari/ekor. Pemberian HPT dalam perhitungan ini
berubah setiap kelahiran populasi ternak baru atau anak, dengan waktu bunting
selama ±6 bulan. Total kebutuhan HPT untuk ternak domba dalam waktu
pemeliharaan tahun pertama sebanyak 23.859
kg atau 23, 859 TON, di tahun kedua sebanyak 52.750 kg, tahun ketiga sebanyak
122.141 kg dan ditahun keempat kebutuhan HPT sebanyak 209.817 kg. Jumlah
kebutuhan seluruh kebutuhan HPT selama 4 tahun pemeliharaan ialah 408.567 kg.
Perhitungan kebutuhan konsentrat yaitu sebanyak 10% dari kebutuhan HPT
perhari untuk memenuhi kebutuhan konsentrat menurut berat badan per kg, dengan
keterangan untuk ternak jantan dewasa berat badan 40 kg/ ekor membutuhkan
konsentrat sebanyak 400 gr/hari/ekor, betina 30 kg ekor membutuhkan konsentrat sebanyak
300 gr/hari/ekor, ternak anak jantan 20 kg ekor membutuhkan konsentrat sebanyak
200 gr/hari/ekor dan anak betina 15 kg ekor membutuhkan konsentrat sebanyak 150
gr/hari/ekor. Pemberian konsentrat dalam perhitungan ini berubah setiap
kelahiran populasi ternak baru atau anak, dengan waktu bunting selama ±6 bulan.
Dari jumlah pemberian pakan konsentrat.
Untuk tahun pemeliharaan jumlah kebutuhan pakan konsentrat sebanyak 2.386 kg,
tahun ke dua sebanyak 5.275 kg, tahun ketiga sebanyak 12.214 kg dan ditahun ke
empat kebutuhan pakan konsentrat sebanyak 20.982 kg. Jumlah kebutuhan seluruh
kebutuhan pakan konsentrat selama 4 tahun pemeliharaan ialah 40.857 kg. Kebutuhan
lahan untuk menanam HPT di tahun pertama seluas 7.470.036 m2.
Ditahun ke dua seluas 15.726.118 m2, ditahun ke tiga seluas 35.543.316
m2 dan ditahun ke empat pemeliharaan seluas 66.301.645 m2.
Jumlah kebutuhan lahan untuk menanam HPT selama 4 tahun seluas 125.041.115 m2.
c.3 Perhitungan produksi kompos.
Perhitungan produksi kompos yaitu sebanyak 5% dari berat badan ternak/ hari
dengan harga kompos Rp. 1.500,00.-/kg. Jumlah tahun pertama hasil produksi
kompos sebanyak 397.650 kg, jumlah tahun
kedua hasil produksi kompos sebanyak 879.168 kg, jumlah tahun ketiga hasil
produksi kompos sebanyak 2.035.679 kg dan jumlah penjualan produksi kompos pada
tahun keempat sebanyak 3.496.949 kg dengan jumlah hasil produksi kompos yang
dihasilkan selama pemeliharaan ternak domba selama 4 tahun sebanyak 6.809.446
kg.
c.4 Perhitungan obat-obatan.
Perhitungan obat-obatan yaitu sebanyak Rp. 8.000,00.-/ekor/tahun.
c.5 Perhitungan kebutuhan karyawan.
Untuk perhitungan
kebutuhan karyawan yaitu setiap 140 ekor ternak domba dibutuhkan satu orang
karyawan untuk memeliharanya dengan gaji menurut UMK sebesar Rp.
2.500.000,00-/bulan/karyawan. Jumlah karyawan yang dibutuhkan pada tahun
pertama pemeliharaan ternak domba sebanyak 301 orang tahun kedua karyawan yang
dibutuhkan sebanyak 776 orang tahun ketiga karyawan yang dibutuhkan sebanyak
2.092 orang, tahun keempat karyawan yang dibutuhkan sebanyak 2.135. jadi selama
empat tahun pemeliharaan membutuhkan karyawan sebanyak 2.135 orang.
c.6 Penjualan ternak jantan.
Perhitungan penjualan ternak jantan yaitu saat ternak domba jantan sudah
memasuki sampai dewasa tubuh ternak jantan dijual sebanyak 90% dari kelahiran
dan 10% sisanya ternak jantan dijadikan sebagai indukan pejantan untuk
dipelihara. Harga satu ekor ternak jantan dewasa siap jual sebesar Rp.
800.000,00.-. Pada tahun pertama ternak
jantan belum ada yang dijual karena anakan G0 yaitu G1 belum dewasa tubuh baik
yang betina maupun yang jantan. tahun kedua penjualan ternak jantan pada bulan
Februari sebanyak 13.014 ekor dan Oktober sebanyak 13.014 jadi jumlah penjualan pada tahun kedua
sebanyak 26.028 ekor, dan mendapatkan pemasukkan biaya Rp. 20.822.400.000,00.-.
Tahun ketiga ternak jantan yang dijual pada bulan Februari ternak jantan
dewasa dijual sebanyak 15.617, Juni sebanyak 13.014 ekor dan Oktober sebanyak
31.234 ekor, jadi jumlah penjualan pada tahun ketiga sebanyak 59.864 ekor, dan
mendapatkan pemasukkan biaya Rp. 47.891.200.000,00.-. Tahun keempat ternak
jantan yang dijual pada bulan Februari ternak jantan dewasa dijual sebanyak
13.014 ekor, bulan Maret ternak jantan dewasa dijual sebanyak 18.740 ekor,
bulan Juni ternak jantan dewasa dijual sebanyak 46.850, bulan Oktober ternak
jantan dewasa dijual sebanyak 13.014 dan penjualan ternak jantan dewasa
terakhir pada tahun keempat terakhir pemeliharaan sebanyak 56.220, jadi jumlah
penjualan pada tahun keempat sebanyak 147.839 ekor dan mendapatkan pemasukkan
biaya Rp. 369.597.500.000,00.- Total penjualan ternak jantan dari tahun pertama
sampai tahun keempat sebanyak 233.731 ekor mendapatkan penghasilan total
keseluruhan dalam penjualan ternak sebanyak Rp. 438.311.100.00,00.-.
c.7 Perhitungan kebutuhan kandang.
Pembangunan kandang
dilakukan saat penambahan jumlah populasi atau kelahiran anak, ternak
membutuhkan luas kandang 4 m2/ekor. Harga pengeluaran biaya kandang
Rp. 400.000,00.-/ m2 sudah termasuk material dan gaji tukang. Ternak
yang dijual sudah tidak membutuhkan kandang lagi, tetapi bekas kandang kosong
dari ternak jantan dewasa yang sudah dijual dapat digunakan kembali oleh ternak
baru untuk proses pemeliharaan sampai dewasa tubuh dan dijual.
c.8 Perhitungan
Ekonomi Usaha.
c.8.1 Populasi
Untuk harga domba betina Rp. 750.000.00,- dan harga domba jantan Rp.
800.000,00,- dengan hal ini aspek pengeluaran untuk pembeliaan bibit sebanyak
13.255 ekor ialah Rp. 10.001.500.000,00.- Didapatkan jumlah uang penjualan ternak
jantan dewasa seluruhnya ditahun kedua dari jumlah ternak 26.028 ekor x Rp.
800.000.00,- = Rp. 20.822.400.000,00.- Didapatkan jumlah uang penjualan ternak
jantan dewasa seluruhnya ditahun ketiga dari jumlah ternak 59.864 ekor x Rp.
800.000.00,- = Rp. 47.891.200.000,00.- Didapatkan jumlah uang penjualan ternak
jantan dewasa seluruhnya ditahun keempat dari jumlah ternak 147.839 ekor x Rp.
800.000.00,- = Rp. 269.597.500.000,00.- jadi jumlah seluruh ternak jantan dewasa yang
dijual selama empat tahun pemeliharaan sebanyak 233.731 ekor dengan jumlah
asumsi biaya yang didapatkan dari jumlah seluruh penjualan ternak selama empat
tahun pemeliharaan sebanyak Rp. 438.311.100.000,00.-
c.8.2 kebutuhan HPT dan konsentrat, kebutuhan lahan untuk HPT.
Untuk asumsi pengeluaran biaya pakan konsentrat yaitu sebesar Rp.
2.000.00,-/kg. Dengan biaya yang harus dikeluarkan untuk pembelian pakan
konsentrat selama 4 tahun pemeliharaan yaitu sebesar Rp. 81.713.344.320,00.-
Harga lahan yang harus dikeluarkan pada tahun pertama pemeliharaan ternak domba
untuk kebutuhan penanaman HPT sebanyak Rp. 11.205.054.000,00.-. tahun ke dua
sebesar Rp. 23.589.176.400,00.-. Tahun ke tiga sebesar Rp. 53.314.974.360,00.-
dan tahun keempat pemeliharan untuk asumsi pengeluaran biaya sebesar Rp.
99.452.467.440,00-. Jadi jumlah asumsi yang dikeluarkan selama empat tahun
pemeliharan untuk menanam HPT dengan total luas 125.041.115 m2 biaya
sebesar Rp. 187.561.672.200,00-.
c.8.3 Produksi kompos.
produksi kompos yaitu sebanyak 5% dari berat badan ternak/ hari dengan
harga kompos Rp. 1.500,00.-/kg. Jumlah tahun pertama asumsi pemasukkan biaya
sebesar yang didapat Rp. 596.475.000,00.- jumlah tahun kedua asumsi pemasukkan
biaya yang didapat sebesar Rp. 1.318.752.000,00.- jumlah tahun ketiga asumsi
pemasukkan biaya yang didapat sebesar Rp. 3.053.518.500,00.- dan jumlah
penjualan produksi kompos pada tahun keempat sebanyak Rp. 5.245.423.500,00.-
dengan jumlah hasil produksi kompos yang dihasilkan selama pemeliharaan ternak
domba selama 4 tahun dengan asumsi pemasukkan pada penjualan produksi kompos
sebesar Rp. 10.214.169.000,00.-.
c.8.4 Obat-obatan.
obat-obatan yaitu sebanyak Rp. 8.000,00.-/ekor/tahun. Jumlah tahun pertama
pemeliharaan untuk pembelian obat-obatan sebanyak Rp. 212. 080.000,00.- ditahun
kedua biaya yang dikeluarkan sebesar Rp. 694.080.000,00.- ditahun ketiga biaya
yang dikeluarkan sebesar Rp. 1.804.608.000,00.- dan ditahun keempat
pemeliharaan ternak domba untuk pembeliaan obat-obatan sebanyak Rp.
1.119.782.400,00.- dengan total jumlah perhitungan pembelian obat-obatan
pemeliharaan selama empat tahun sebanyak Rp. 3.830.550.400,00.-.
c.8.5 kebutuhan karyawan.
Gaji karyawan yang
dibutuhkan pada tahun pertama pemeliharaan ternak domba sebanyak Rp. 752.500.000,00.-,
tahun kedua pengeluaran untuk gaji karyawan sebesar Rp. 1.940.000.00,00.- tahun
ketiga pengeluaran untuk gaji karyawan sebesar Rp. 5.230.000.000,00.-, tahun
pengeluaran untuk keempat gaji karyawan sebesar Rp. 5.337.500.000,00.- jumlah
gaji yang dikeluarkan untuk karyawan selama empat tahun pemeliharaan sebesar
Rp. 13.260.000.000,00-.
c.8.6 Penjualan ternak jantan.
jumlah penjualan pada tahun kedua sebanyak 26.028 ekor, dan mendapatkan
pemasukkan biaya Rp.20.822.400.000,00.-.Tahun ketiga penjualan ternak jantan
mendapatkan pemasukkan biaya Rp. 47.891.200.000,00.-. Tahun keempat ternak
jantan yang dijual mendapatkan pemasukkan biaya Rp. 369.597.500.000,00.- Total
penjualan ternak jantan dari tahun pertama sampai tahun keempat sebanyak
233.731 ekor mendapatkan penghasilan total keseluruhan dalam penjualan ternak
sebanyak Rp. 438.311.100.00,00.-
c.8.7 kebutuhan kandang.
kebutuhan kandang untuk
ternak domba selama 4 tahun membutuhkan kandang 298.927 dengan luas 1.195.708 m2.
Dengan harga pembangun selama pemeliharaan empat tahun asumsi biaya pengeluaran
sebanyak Rp. 478.283.200.000,00.-
D. PEMBAHASAN
Setelah beternak domba selama
empat tahun si peternak mengalami kerugian, karena setiap bertambahnya populasi
ternak domba juga bertambahnya biaya pengeluaran seperti biaya untuk lahan HPT,
biaya kosentrat, biaya obat-obatan, biaya gaji karyawan dan biaya lahan untuk
kandang serta biaya pembuatan kandang sedangkan dana pemasukan hanya
mengandalkan penjualan kompos dan ternak jantan dewasa per kelahiran. Walaupun
sipeternak mengalami kerugian dalam bentuk rupiah tetapi si peternak
mendapatkan hak milik seperti lahan untuk HPT, kandang serta seluruh domba yang
belum dijual, hal tersebutlah yang menyebabkan sipeternak mengalami kerugian.
Untuk tahun berikutnya si peternak akan mengalami keuntungan secara bertahap
apalagi si peternak juga menjual dalam bentuk lain seperti woll.
Kebutuhan zat makanan domba
jumlah pakan yang dikonsumsi oleh ternak harus disesuaikan dengan kebutuhan
ternak tersebut Jumlah dan kualitas pakan merupakan
salah satu faktor yang mempengaruhi produktivitas ternak.
Kebutuhan nutrisi oleh ternak bervariasi sesuai dengan jenis dan umur
fisiologis yang berbeda. Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi kebutuhan
nutrisi ternak antara lain adalah jenis kelamin, tingkat produksi, keadaan
lingkungan dan aktivitas fisik (Haryanto, 1992). Kebutuhan nutrisi ternak
dikelompokkan menjadi komponen utama yaitu energi, protein, mineral dan
vitamin. Komponen-komponen utama tersebut diperoleh dari zat makanan yang masuk
kedalam tubuh ternak. Konsumsi ruminansia dipengaruhi oleh jenis pakan, usia,
bobot badan, jenis kelamin, suhu, manajemen dan kandungan nutrisi, (Arora,
1989).
Menurut Anggorodi (1990) energi adalah salah satu
komponen yang penting dalam pakan untuk pertumbuhan. Energi ini digunakan untuk
hidup pokok, pertumbuhan, gerak otot dan sintesa jaringan baru. Ternak
membutuhkan energi untuk memenuhi kebutuhan hidup pokok dan kebutuhan untuk
produksi serta kebutuhan reproduksi (Anggorodi, 1990). kebutuhan pokok adalah
kebutuhan zat-zat makanan untuk memenuhi proses hidup saja seperti menjaga
fungsi tubuh tanpa adanya suatu kegiatan dan produksi, sedangkan kebutuhan
produksi adalah kebutuhan zat nutrisi untuk pertumbuhan, kebuntingan, produksi
susu dan kerja.
Protein merupakan senyawa kimia yang tersusun atas
asam-asam amino. Protein merupakan unsur penting dalam tubuh ternak dan
diperlukan terus-menerus untuk memperbaiki sel dalam proses sintesis. Protein
berfungsi sebagai zat pembangun karena protein merupakan bahan pembentuk
jaringan-jaringan baru yang terjadi dalam tubuh, protein digunakan sebagai
bahan bakar jika kebutuhan energi tubuh tidak terpenuhi oleh karbohidrat dan
lemak. Kebutuhan ternak akan protein biasanya disebutkan dalam bentuk protein
kasar, sebagian besar protein kasar yang diperlukan oleh ternak dapat dipenuhi
dalam bentuk Non Protein Nitrogen (NPN) seperti urea, tetapi sebagian
lagi dipenuhi dalam bentuk protein yang sebenarnya. Kebutuhan protein domba dipengaruhi
oleh masa pertumbuhan, umur, fisiologis, ukuran dewasa, kebuntingan,
laktasi, kondisi tubuh dan rasio energi protein (Ensminger, 1993).
Kebutuhan Domba Fase Pertumbuhan penampilan seekor
ternak merupakan hasil dari suatu proses pertumbuhan dan perkembangan yang
berkesinambungan tanpa berhenti dalam seluruh hidup ternak tersebut, yang pada
setiap komponen tubuh mempunyai kecepatan pertumbuhan dan perkembangan yang
berbeda tergantung lingkungan. Pertumbuhan umumnya dinyatakan dengan pengukuran
kenaikan berat badan dan tinggi. Menurut Anggorodi (1990), pertumbuhan murni
mencakup pertumbuhan dalam bentuk dan berat jaringan-jaringan pembangun seperti
urat daging, tulang, jantung, otak dan semua jaringan-jaringan tubuh lainnya
(kecuali jaringan lemak) dan alat-alat tubuh. Pertumbuhan adalah peningkatan
berat badan hidup seekor ternak sampai mencapai berat tertentu sesuai dengan
kemasakan tubuhnya. Pertumbuhan selanjutnya didefinisikan sebagai perubahan
ukuran yang meliputi perubahan bobot hidup, bentuk dimensi linier dan komposisi
tubuh termasuk perubahaan organ-organ dan jaringan tersebut berlangsung secara
gradual hingga tercapai ukuran dan bentuk karakteristik masing-masing organ dan
jaringan tersebut. Pertumbuhan sangat dipengaruhi oleh kualitas dan kuantitas
ransum yang diberikan. Jumlah pakan yang diberikan pada ternak sehari-hari
harus lebih banyak dari kebutuhan hidup pokok agar ternak tidak mengalami
kesulitan produksi. Kebutuhan bahan kering untuk domba fase pertumbuhan atau
dengan bobot badan sekitar 15-25 kg adalah 3% dari bobot badannya atau sekitar
400-500g/ekor/hari (Arora, S. P. 1989).
Faktor yang mempengaruhi laju pertumbuhan adalah
genetik dan lingkungan. Salah satu faktor lingkungan adalah pakan, pakan sangat
berperan penting dalam masa pertumbuhan seekor domba. Status fisiologis yang
berbeda menyebabkan kebutuhan zat makanan domba berbeda. Kandungan zat makanan
untuk domba pada periode pertumbuhan adalah 55% TDN, 9,5% PK, 0,20% Ca dan
0,18% P (NRC, 2006). Kebutuhan bahan kering untuk domba fase pertumbuhan atau
dengan bobot badan sekitar 25-35 kg adalah 3% dari bobot badannya atau sekitar
500- 600g/ekor/hari.
Kebutuhan Domba BuntingPenampilan reproduksi domba
dapat dipergunakan sebagai petunjuk kemampuan produktivitas ternak domba.
Faktor-faktor yang mempengaruhi penampilan reproduksi adalah genetik dan
lingkungan. Pakan merupakan salah satu faktor lingkungan yang sangat penting
untuk induk bunting. Pengaruh negatif dari kekurangan pakan terhadap organ
reproduksi pada domba muda dapat bersifat permanen (Thalib et
al., 2001). Kebutuhan zat makanan untuk domba yang sedang bunting adalah
59% TDN, 9,5% protein, 0,33% Ca dan 0,16% P.
Pertumbuhan ternak dipengaruhi oleh faktor genetik,
lingkungan dan interaksi keduanya. Faktor genetik berhubungan dengan kecepatan
dan sifat tumbuh yang diwariskan oleh tetuanya dan jenis ternak. Faktor
lingkungan diantaranya adalah manajemen dan pakan (Church, 1991). Salah satu
kriteria yang digunakan untuk mengukur perrtumbuhan adalah dengan pengukuran
bobot badan. Pertambahan bobot badan adalah kemampuan ternak untuk mengubah
zat-zat makanan yang terdapat dalam pakan menjadi produk. Pertambahan bobot
badan merupakan salah satu peubah yang dapat digunakan untuk menilai kualitas
bahan makanan ternak. Dari data pertumbuhan bobot badan akan diketahui nilai
suatu zat makanan dari suatu ternak (Church dan Pond, 1988). kecepatan
pertumbuhan tergantung dari spesies, jenis kelamin, umur dan keseimbangan
zat-zat nutrisi dalam pakan, semakin baik kualitas pakan yang dikonsumsi ternak
akan diikuti dengan pertambahan bobot badan yang lebih tinggi. Menurut pertambahan
bobot badan harian domba sekitar 100 g/ekor/hari, pertambahan bobot badan
harian domba untuk daerah tropis adalah 70 g/ekor/hari, sementara hasil
penelitian dari pertambahan bobot badan untuk domba lokal Jonggol adalah 47
g/ekor/hari dan hasil penelitian pertambahan bobot badan domba lokal Jonggol
yang sedang bunting adalah 69 g/ ekor/hari.
Konversi pakan merupakan jumlah pakan yang
dikonsumsi untuk mendapatkan kenaikan satu satuan bobot hidup (Church, 1991).
Konversi pakan digunakan untuk mengetahui efisiensi produksi karena erat
kaitannya dengan biaya produksi. Semakin rendah nilai konversi pakan maka
efesiensi penggunaan pakan semakin tinggi. pertumbuhan yang baik belum tentu menjamin
keuntungan maksimal, tetapi pertumbuhan yang baik disertai biaya ransum yang
minimum akan mendapatkan keuntungan maksimal. konversi pakan domba sekitar
5,74, konversi pakan domba untuk daerah tropis adalah 7,7. (Church, D. C &
W. G. Pond. 1988).
Efisiensi
dari penggunaan pakan termasuk dalam program pemberian pakan yang diukur dari
konversi pakan atas bobot badan hidup domba. Konversi pakan adalah jumlah pakan
yang dikonsumsi untuk mendapatkan bobot badan tertentu dalam waktu yang
ditentukan. Konversi pakan ditentukan berdasarkan beberapa faktor yaitu suhu
lingkungan, potensi genetik, nutrisi pakan, kandungan energi dan penyakit. Konversi
pakan juga dipengaruhi oleh jumlah pakan yang dikonsumsi, bobot badan, gerak
atau aktivitas tubuh, musim dan suhu dalam kandang. Kualitas pakan yang
dikonsumsi oleh ternak semakin baik maka semakin efisien dalam penggunaan pakan
(Dimsoski, P., J. Tosh, J. C. Clay & K. M. Irvin. 1999).
Energi adalah salah satu komponen yang penting dalam
pakan untuk pertumbuhan. Energi ini digunakan untuk hidup pokok, pertumbuhan,
gerak otot dan sintesa jaringan baru. Ternak membutuhkan energi untuk memenuhi
kebutuhan hidup pokok dan kebutuhan untuk produksi serta kebutuhan reproduksi,
kebutuhan ini tergantung dari proses fisiologis ternak (Anggorodi, 1990).
Kebutuhan energi ternak untuk hidup pokok adalah jumlah energi dalam pakan yang
harus dikonsumsi setiap hari bukan untuk mendapat ataupun kehilangan energi
tubuh, energi tersebut digunakan untuk memelihara dan mempertahankan keutuhan
tubuhnya. Kebutuhan untuk produksi dan reproduksi adalah energi di atas
kebutuhan hidup pokok yang dimanfaatkan untuk proses-proses produksi dan
reproduksi Ensminger (1993) menyatakan bahwa kekurangan energi merupakan
masalah defisiensi nutrisi yang umum terjadi pada domba, yang dapat disebabkan
oleh kekurangan pakan atau mengkonsumsi pakan dengan kualitas yang rendah.8 (Blakely,
J. & D. H. Bade, 1994).
Bahan pakan sumber protein yang biasa digunakan
untuk ternak ruminansia adalah bungkil kelapa. Bungkil kelapa merupakan limbah
industri minyak kelapa yang dapat dimanfaatkan ternak. Kualitas bungkil kelapa
bervariasi tergantung pada cara pengolahan dan kualitas bahan baku. Berdasarkan
komposisi kimianya, bungkil kelapa termasuk sumber protein untuk ternak, kandungan
protein dari bungkil kelapa mencapai 21,3 % (Gattenby, R. M. 1995).
Sifat produksi dan reproduksi pada ternak
dipengaruhi oleh faktor genetik dan lingkungan. Diperkirakan terdapat 9.514.184
ekor domba di Indonesia pada tahun 2007 yang sebagian besar berada di pulau
Jawa dan merupakan peternakan rakyat (Ditjen Peternakan, 2008). Tingkat
mortalitas yang tinggi akibat pengelolaan, kurang cermatnya deteksi berahi atau
waktu perkawinan yang tidak tepat, pemotongan ternak yang semakin meningkat dan
kurangnya perhatian terhadap segi pemuliaan merupakan masalah yang
berkaitan dengan rendahnya peningkatan populasi ternak di Indonesia. Penggunaan
bibit yang baik, tidak memotong induk yang masih produktif dan menerapkan
sistem manajemen pemeliharaan yang lebih baik dan efesien serta peningkatan
usaha pengendalian penyakit merupakan usaha yang sangat diperlukan dalam
mempertahankan dan meningkatkan populasi ternak di Indonesia.
Reproduksi merupakan suatu proses perkembangbiakan
suatu mahluk hidup, dimulai sejak bersatunya sel telur dengan sel sperma. Hasil
penggabungan kedua sel ini membentuk zigot. Zigot ini akan terus berkembang
selama kebuntingan dan diakhiri dengan kelahiran anak. Faktor-faktor yang
mempengaruhi proses reproduksi adalah jarak antar beranak, jarak antar
melahirkan sampai bunting kembali, angka kebuntingan, rataan jumlah kebuntingan
per perkawinan (Dihardjo, 1995). jenis domba di Indonesia pada umumnya
mempunyai sifat reproduksi yang baik, hal ini terlihat pada frekuensi
melahirkan dan tingkat kelahiran kembar yang tinggi, serta adaptasi yang baik (Diharjo,
P. S. 1995).
Pada jenis-jenis ternak tertentu, awal reproduksi
pada ternak betina ditandai dengan munculnya tanda-tanda berahi yang biasa
terjadi pada musim kawin. Pada ternak domba musim kawin sangat dipengaruhi oleh
tempat domba dipelihara, misalnya musim kawin domba-domba subtropik
bersifat seasonal breeder, sedangkan untuk domba-domba yang berada di
daerah tropik, sifatnya continous breeder (Hafez, 1993).
Proses reproduksi baik untuk jantan maupun betina
ditandai dengan kemampuannya memproduksi benih pertama kali (masa pubertas).
Ciri-ciri ternak yang sedang berahi adalah terlihat tingkah laku menggesekkan
badannya pada pejantan, mengibas-ngibaskan ekornya, sering urinasi dan siap
menerima pejantan untuk kopulasi yaitu tidak memperlihatkan pemberontakan pada
saat dinaiki. Dewasa kelamin pada domba dapat tercapai pada umur 6-8 bulan
dengan kondisi makanan yang baik atau berdasarkan berat badan, dewasa kelamin
tercapai ketika domba mencapai berat badan sekitar 50%-70% dari berat badan
dewasa (Hafez, 1993).
Siklus berahi merupakan jarak waktu berahi periode
pertama dengan berahi periode berikutnya. Jarak berahi terjadi sekitar 11-19 hari
dengan rata-rata 16,7 hari. Siklus berahi terbagi menjadi empat fase yaitu
fase proestrus, fase estrus, fasemetestrus dan
fase diestrus, faktor-faktor yang mempengaruhi siklus berahi secara
umum diantaranya adalah umur ternak, bangsa, perubahan panjang siang dan
panjang malam hari, suhu lingkungan, kualitas makanan dan kehadiran pejantan (Devendra,
C. & G. B. Mcleroy. 1982).
Kebuntingan merupakan suatu interval atau waktu
antara setelah terjadinya fertilisasi sampai dengan kelahiran (Partus) Lama
kebuntingan pada ternak berbeda-beda. Demikian halnya umur kebuntingan domba
juga berbeda tergantung dari bangsa, pemberian pakan, kondisi lingkungan,
kandang dan manajemen pemeliharaan dari domba tersebut, umur kebuntingan domba
sekitar 144-155 hari. kebuntingan dimulai pada saat terjadinya fertilisasi dan
diakhiri pada waktu kelahiran, lama kebuntingan dipengaruhi oleh genetik
walaupun dapat juga dipengaruhi oleh faktor-faktor
maternal, foetal dan lingkungan.
E. PENUTUP
e.1 Kesimpulan
selama pemeliharaan empat tahun sipeternak
mengalami kerugian berupa nilai rupiah tetapi si peternak mendapatkan aset
berupa kandang, lahan HPT
e.2 saran
1.
Setiap 160 ekor domba dipelihara oleh 1 karyawan
2.
Gaji karyawan menggunakan sistem UMR daerah.
DAFTAR PUSTAKA
Anggorodi.
1990. Ilmu Makanan Ternak Umum. PT Gramedia, Jakarta.
Arora, S. P. 1989. Pencernaan
Mikroba pada Ruminansia. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.
Badan Pusat Statistik. 2008.
Statistik Pertanian. Pusat Data dan Informasi Pertanian. Departemen Pertanian,
Jakarta.
Blakely, J. & D. H. Bade, 1994.
Ilmu Peternakan. Edisi Ke-4. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.
Church, D. C & W. G. Pond.
1988. Basic Animal and Feeding. John Willey and Son. New York, Singapore.
Church, D. C. 1991. Digestive
Physiologi and Nutrition of Ruminants. Oregon State University Press,
Carvallis, Oregon.
Devendra, C. & G. B. Mcleroy.
1982. Goat and Sheep Production in The Tropics. 1stEdition. Oxford University
Press. Oxford.
Diharjo,
P. S. 1995. Ilmu Reproduksi Hewan. Mutiara. Jakarta.
Dimsoski, P., J. Tosh, J. C. Clay
& K. M. Irvin. 1999. Influence of management system on litter size, lamb
growth and carcass charateristics in sheep. J. Anim. Sci. 77 : 1037-1043.
Direktorat Jendral Bina Produksi
Peternakan. 2008. Statistik Peternakan. Direktorat Jendral Bina Produksi Peternakan,
Departemen Pertanian, Jakarta.
Ensminger, M. L. 1993. Feed and
Nutrition 2nd Edition. The Ensminger Publishing. Company, California.
Gattenby, R. M. 1991. Sheep
Production in the Tropic and Sub-Tropic. Tropical Agriculture Series. London.
Gattenby,
R. M. 1995. Sheep. University of Edinburg. England.
Hafez, E. S. E. 1993. Hormones
Growth Factors and Reproduction. In: E. S. E. Hafes (Editor) Reproduction
Animals. 6th Edition. Lea and Febriger, Philadelphia.
