Monday, October 2, 2017

LAPORAN PRAKTIKUM MANAJEMEN TERNAK POTONG UNIB

MK MANAJEMEN TERNAK POTONG



Oleh :
Nama                 : Abdurrahman
NPM                  : E1C013101
Kelompok         : 14







Jurusan Peternakan – Fakultas Pertanian
Universitas Bengkulu
Juni 2015

KATA PENGANTAR


Puji syukut saya panjatkan kehadiran Allah SWT, atas rahmat dan hidayahNya saya dapat menyelesaikan laporan akhir praktikum MK Manajemen Ternak Potong dan Kerja dengan lancar. Saya mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada semua pihak yang telah memberikan bantuan dalam menyelesaian laporan akhir MK Manajemen Ternak Potong dan Kerja terutama kepada asisten dan dosen pembimbing MK Manajemen Ternak Potong dan Kerja yang telah membimbing selama kegiatan praktikum berlangsung.
Laporan akhir praktikum MK Manajemen Ternak Potong dan Kerja merupakan hasil praktikum yang telah dilaksanakan sebelumnya, untuk menambah wawasan tentang MK Manajemen Ternak Potong dan Kerja sebagai salah satu syarat dalam penilaian praktikum. Meskipun telah disusun dengan cermat, tidak tertutup kemungkinan bahwa didalam laporan akhir MK Manajemen Ternak Potong dan Kerja ini masih terdapat sejumlah kekeliruan. Untuk itu segala kritik dan saran diperlukan demi terwujudnya laporan akhir praktikum MK Manajemen Ternak Potong dan Kerja yang lebih baik diwaktu mendatang. Dengan kerendahan hati segala hormat, saya mengucapkan banyak beribu terima kasih yang sebesar-besarnya kepada :
1.   Dr. Ir Dwatmadji, M.Sc (selaku penanggung jawab di mata kuliah manajemen ternak potong dan kerja) yang telah memberikan fasilitas yang mendukung semua aspek dalam pembuatan laporan.
2.   Kedua orang tua saya yang telah melahirkan saya dan senantiasa memberikan dukungan moral dan material untuk pembuatan laporan ini. Saya dedikasikan laporan ini untuk kalian ayah dan ibu tercinta.
3.   Alexander Giovanni, Ayun Andi Rahmah, Galih Ardiansyah, Rati Tri Ulansari selaku satu   kelompok 14 yang menemani saya dalam suka maupun duka, semangat teman-teman.
4. Teman-teman angkatan 2013 jurusan peternakan yang menjadi kawan seperjuangan.
5.   Adik-adik tingkat semua yang membantu dan mendukung saya selama ini.

Bengkulu,      Juni 2015


ABDURRAHMAN
E1C013101

DAFTAR ISI




 

 

 

 

 

 

 











A. PENDAHULUAN

a. 1 Latar Belakang

Domba atau biri-biri (ovis) adalah ruminansia dengan rambut tebal dan dikenal orang banyak karena dipelihara untuk dimanfaatkan rambut (disebut wol), daging, dan susunya. Yang paling dikenal orang adalah domba peliharaan (ovis aries), yang yang diduga keturunan dan moufflon liar dari Asia Tengah Selatan dan Barat Daya. Untuk tipe lain dari domba dan kerabat dekatnya. Domba berbeda dengan kembing.
Klasifikasi Ilmiah
Kerajaan                      : Animalia
Filum                           : Chordata
Kelas                           : Mamalia
Ordo                            : Ungulata
Famili                          : Coroviane
Upafamili                    : Artiodactylata
Genus                          : Ovis
Spesies                        : Ovis Orientalisi
Sejarah Domba                                                                                                                       Domba seperti halnya kambing, sapi dan kerbau, tergolong dalam family Bavidae, Domba merupakan salah satu ternak yang diusahakan oleh peternak dalam skala kecil di pedesaan .(Toelihere,1977) Domba merupakan ternak ruminansia kecil yang potensial sebagai penghasil daging, wol dan susu (Blakely,1994).domba dan kambing pada hakikatnya merupakan 2 genus dari Bavidae yang berdekatan meskipun demikian, ada perbedaan yang mencolok yakni domba dan kambing tidak dapat dikawin silangkan.ciri domba yang paling gampng diamati adalah tanduk domba berpenampang segitiga yang tumbuh melilit seperti seiral.
Beberapa jenis domba yang tersebar di indonesia seperti :
  1. Domba ekor gemuk
  2. Domba ekor tipis
  3. Domba Garut
  4. Domba Pariangan
  5. Domba Kampung
Domba adalah salah satu ternak penghasil daging yang cukup potensial untuk dikembangkan di Indonesia. Ternak domba memiliki potensi yang cukup baik untuk dikembangkan menjadi salah satu ternak penghasil daging di dalam negeri. Dagng yang dihasilkan oleh ternak domba memiliki kualitas yang cukup baik. Jika dibandingkan dengan daging sapi dan kambing, daging yang dihasilkan oleh ternak domba tidak jauh berbeda.
Ternak domba dapat hidup dinegara beriklim tropis seperti di Indonesia. Kebutuhan pakan ternak domba juga tidak terlalu jauh berbeda dengan kebutuhan ternak potong lainnya. Pertumbuhan ternak domba dapat berlangsung dengan cepat apabia pemeliharaannya sesuai dengan teknis semestinya. Beternak domba memiliki peluang yang cukup bagus untuk dikembangkan karena dapat menyumbangkan swadaya daging untuk memenuhi kebutuhan daging magi masyarakat Indonesia. Iklim di Indonesia cukup baik untuk penanaman hijauan pakan tidak akan ada kendala.
Selain daging domba juga dapat menghasilkan produk lain yang dapat dihasilkan seperti woll dan feses (dalam bentuk kompos). Jika usaha ternak domba ini ditekuni dengan benar dapat menghasilkan keuntungan yang sangat banyak, tetapi banyak usaha ternak domba ini biasanya dikembangbiaakan hanya untuk diambil dagingnya saja. Usaha ternak domba di Indonesia ternyata belum telalu diminati oleh kalangan masyarakat dari usaha ternak domba ini hanya sebagai usaha sampingan untuk tabungan rumah tangga, pemeliharaan sekitar 4 sampai 6 ekor saja.
Usaha penggemukkan ternak domba membutuhkan lahan yang cukup luas tergantung jumlah ternak domba yang akan digemukkan. Ternak domba biasa dipelihara dengan sistem pastura fallening, yaitu dilepas di padang gembala pada saat siang hari dan malam harinya diletakkan didalam kandang. Di Indonesia adalah negara yang memiliki lahan yang cukup luas untuk dijadikan lahan usaha penggemukkan ternak seperti ternak domba.namun potensi lahan yang begitu baik ini belum sepenuhnya dimanfaatkan pemerintah untuk mendirikan usaha yang berbasis penggemukkan ternak yang hasil diharapkan dapat memenuhi kebutuhan daging didalam negerisehingga nilai impor daging di Indonesia dapat dikurangi.
Adanya potensi yang kita miliki sudah sewajarnya jika kita mengembangkan produk ternak potong, agar dapat memenuhi kebutuhan protein hewani. Kegiatan yang dilakukan pada saat praktikum mata kuliah manajemen ternak potong dan kerja antara lain pembuatan diagram breeding menggunakan kertas milimeter dengan lebar ± 1 m dan panjang ± 2 m. Pengamatan manajemen aspek pengeluaran biaya, manajemen pemeliharaan bibit awal atau generasi pertama, manajemen perkandangan, manajemen lahan HPT, manajemen pecegahan penyakit dan obat-obatan, manajemen hijauan pakan ternak dan konsentrat, manajemen penangan limbah seperti feses diolah menjadi kompos dan aspek pemasukkan biaya atau keuntungan. Hal ini yang melatar belakangi pelaksanaan praktikum manajemen ternak potong.

a. 2 Tujuan Praktikum

1.      Mahasiswa dapat memanajemenkan bagaimana cara mengetahui perhitungan populasi ternak domba dari perkawinan, lama estrus, lama bunting, service per conception, littersie, lama menyusui, lama dewasa tubuh sampai dikawinkan.
2.      Untuk dapat mengetahui bagaimana potensi penggemukan usaha peternakan domba dalam skala besar dalam perhitungan HPT dan konsentrat, kebutuhan lahan untuk HPT, obat- obatan, produksi kompos, kebutuhan karyawan dan gaji yang harus dikeluarkan, kebutuhan kandang, penjualan ternak jantan dan asumsi perhitungan ekonomi untung dan rugi.















B. ASUMSI UNTUK DIAGRAM BREEDING DAN PERHITUNGAN USAHA


b.1 Asumsi Untuk Diagram Breeding

1.      Service per conception            : 1,7 kawin
2.      Lama estrus                             : 1,7 x 17 hari = 28,9 hari
3.      Lama bunting                          : 152 hari
4.      Littersize                                 : 2,4 jumlah anak
5.      Jumlah bibit awal betina         : 12050 ekor
6.      Jumlah bibit awal jantan         : 1205 ekor 10% dari jumlah bibit betina
7.      Lama menyusui                       : 60 hari
8.      Umur dewasa tubuh                : 6,5 bulan      

b.2 Asumsi Perhitungan Usaha Ekonomi

1.      Berat ternak dewasa jantan = 40 kg, berina = 30 kg.
2.      Berat ternak anak jantan = 20 kg, betina = 15 kg.
3.      Harga beli ternak betina = Rp. 750.000.00,-, Jantan = Rp. 800.000.00,-.
4.      Harga lahan Rp. 15.000.000.00,-/ ha. Harga lahan permeter = 15.000.000/10.000 = Rp. 1.500.00,-/m2.
5.      Biaya obat-obatan Rp. 8.000.00,-/ekor/tahun.

b.2.1 Aspek Pengeluaran Biaya

1.      Kebutuhan kandang
Satu ekor ternak butuh 4 m2, harga kandang Rp. 400.000/m2 termasuk meterial dan ongkos tukang.
2.      Kebutuhan pakan HPT dan konsentrat.
   Kebutuhan lahan untuk HPT hanya untuk ternak baru saja.
   Kebutuhan pakan HPT segar = 10% x berar badan ternak.
   Kebutuhab pakan konsentrat = 10% x konsumsi pakan HPT.
   Harga konsentrat Rp. 2.000.00,-/kg.
   Produksi HPT = 0.5 kg/m2. Umur panen = 60 hari.
Perhitungan :
         Satu ekor domba jantan berat 40 kg membutuhkan HPT = 10% x 40 kg = 4 kg/hari.
         Berapakah luas lahan minimum yang dibutuhkan untuk menananm HPT.
   Kebutuhan lahan perhari = kebutuhan pakan/produksi = 4/0,5 = 8 m2/hari
   Jadi kebutuhan minimum selama pemeliharaan = 8x (umur panen) = 8 x 60 = 480 m2.
   Harga lahan = 480 x harga lahan/m2.
3.      Perhitungan gaju karyawan.
   Kebutuhan karyawan = 140 ekor ternak/dewasa
   Gaji karyawan Rp. 2.500.000.00,-/bulan

b.2.2 Aspek Pemasukkan Biaya.

1.      Penjualan ternak jantan dan kompos.
   Harga jual anak jantan = Rp. 800.000.00,-/ekor.
   Produksi kompos (kg) = 5% x dengan berat badan ternak/ hari.
   Harga kompos = Rp. 1.500.00,-/kg.

b.2.3 Perhitungan untung rugi.

Pemasukkan – pengeluaran








C. HASIL PRAKTIKUM

Dalam perhitungan populasi perhitungan dimulai dari bibit pertama (indukan/G0) dengan jumlah untuk ternak domba betina sebanyak 12.050 ekor dan ternak domba yang jantan sebanyak 1.205 ekor. Jumlah selutuh ternak domba jantan dan betina di bulan pertama pemeliharaan sebanyak 13.255 ekor setelah 6 bulan pemeliharaan ternak betina melahirkan 50% anakan betina dan 50% anakan jantan jumlah yang lahir pada tahun pertama sebanyak 28.920 ekor. Dari jumlah keseluruhan anak dan induk pada tahun pertama 42.175 ekor. Hasil ini yang merupakan G1 atau generasi pertama dari G0. perhitungan yang sama mulai dari G1 sampai G6 karena berasal dari indukan yang sama yaitu G0
Untuk menghitung jumlah perkelahiran yaitu (jumlah indukan x litter size x 50%). Ternak domba jantan setelah dewasa tubuh dijual sebanyak 90%. Dengan penjualan 13.014 ekor dan yang tersisa sebanyak 1.446 ekor ternak jantan dijadikan sebagai induk pejantan.  Generasi yang pertama keturunan dari G1 yaitu G1.1 lahir pada tahun kedua pemeliharaan bulan ke 7 jumlah seluruh anaknya sebanyak 34.704 ekor. Anak betina 17.352 dan jantan 17.352 ekor dengan asumsi 50% betina dan 50% jantan. Untuk mengetahui jumlah perkelahiran yaitu (jumlah indukan x littersize x 50%), Sama seperti perhitungan populasi G0 sebelumnya setelah dewasa tubuh dijual 90% dari jumlah jantan demikian pula dengan perhitungan jumlah populasi pada keturunan G1.2, G2.1, G1.3, G2.2, G3.1, G1.4, G2.3, G3.2 dan G4.1 perhitungannya sampai tahun ke 4 pemeliharaan sama karena berasal dari indukan dengan jumlah yang sama 17.352 ekor.
Generasi selanjutnya yaitu G1.1.1 keturunan berasal dari G1.1 lahir pada tahun ke 3 pemeliharaan bulan agustus jumlah seluruh anaknya sebanyak 41.644 ekor. Anak betina 20.822 ekor dan jantan 20.822 ekor dengan asumsi 50% betina dan 50% jantan. Untuk mengetahui jumlah perkelahiran yaitu (jumlah induk x littersize x 50%) Sama seperti perhitungan populasi G1 sebelumnya setelah dewasa tubuh dijual 90% dari jumlah kelahiran jantan. Demikian pula dengan perhitungan jumlah populasi pada keturunan G1.1.2, G1.2.1, G2.1.1, G1.1.3, G1.2.2, G1.3.1, G2.1.2, G2.2.1 dan G3.1.1 perhitungan sampai tahun ke empat dan seterusnya pemeliharaan sama karena berasal dari indukan dengan jumlah yang sama 20.822 ekor induk.


c.2 Perhitungan kebutuhan HPT dan konsentrat, kebutuhan lahan untuk HPT.

Perhitungan kebutuhan HPT yaitu sebanyak 10% dari berat badan perhari untuk memenuhi kebutuhan hijau menurut berat badan per kg, dengan keterangan untuk ternak jantan dewasa berat badan 40 kg/ ekor membutuhkan HPT sebanyak 4 kg/hari/ekor, betina 30 kg ekor membutuhkan HPT sebanyak 3 kg/hari/ekor, ternak anak jantan 20 kg ekor membutuhkan HPT sebanyak 2 kg/hari/ekor dan anak betina 15 kg ekor membutuhkan HPT sebanyak 1,5 kg/hari/ekor. Pemberian HPT dalam perhitungan ini berubah setiap kelahiran populasi ternak baru atau anak, dengan waktu bunting selama ±6 bulan. Total kebutuhan HPT untuk ternak domba dalam waktu pemeliharaan tahun pertama sebanyak  23.859 kg atau 23, 859 TON, di tahun kedua sebanyak 52.750 kg, tahun ketiga sebanyak 122.141 kg dan ditahun keempat kebutuhan HPT sebanyak 209.817 kg. Jumlah kebutuhan seluruh kebutuhan HPT selama 4 tahun pemeliharaan ialah 408.567 kg.
Perhitungan kebutuhan konsentrat yaitu sebanyak 10% dari kebutuhan HPT perhari untuk memenuhi kebutuhan konsentrat menurut berat badan per kg, dengan keterangan untuk ternak jantan dewasa berat badan 40 kg/ ekor membutuhkan konsentrat sebanyak 400 gr/hari/ekor, betina 30 kg ekor membutuhkan konsentrat sebanyak 300 gr/hari/ekor, ternak anak jantan 20 kg ekor membutuhkan konsentrat sebanyak 200 gr/hari/ekor dan anak betina 15 kg ekor membutuhkan konsentrat sebanyak 150 gr/hari/ekor. Pemberian konsentrat dalam perhitungan ini berubah setiap kelahiran populasi ternak baru atau anak, dengan waktu bunting selama ±6 bulan. Dari jumlah pemberian pakan  konsentrat. Untuk tahun pemeliharaan jumlah kebutuhan pakan konsentrat sebanyak 2.386 kg, tahun ke dua sebanyak 5.275 kg, tahun ketiga sebanyak 12.214 kg dan ditahun ke empat kebutuhan pakan konsentrat sebanyak 20.982 kg. Jumlah kebutuhan seluruh kebutuhan pakan konsentrat selama 4 tahun pemeliharaan ialah 40.857 kg. Kebutuhan lahan untuk menanam HPT di tahun pertama seluas 7.470.036 m2. Ditahun ke dua seluas 15.726.118 m2, ditahun ke tiga seluas 35.543.316 m2 dan ditahun ke empat pemeliharaan seluas 66.301.645 m2. Jumlah kebutuhan lahan untuk menanam HPT selama 4 tahun seluas 125.041.115 m2.

c.3 Perhitungan produksi kompos.

Perhitungan produksi kompos yaitu sebanyak 5% dari berat badan ternak/ hari dengan harga kompos Rp. 1.500,00.-/kg. Jumlah tahun pertama hasil produksi kompos sebanyak 397.650 kg,  jumlah tahun kedua hasil produksi kompos sebanyak 879.168 kg, jumlah tahun ketiga hasil produksi kompos sebanyak 2.035.679 kg dan jumlah penjualan produksi kompos pada tahun keempat sebanyak 3.496.949 kg dengan jumlah hasil produksi kompos yang dihasilkan selama pemeliharaan ternak domba selama 4 tahun sebanyak 6.809.446 kg.

c.4 Perhitungan obat-obatan.          

            Perhitungan obat-obatan yaitu sebanyak Rp. 8.000,00.-/ekor/tahun.

c.5 Perhitungan kebutuhan karyawan.

            Untuk perhitungan kebutuhan karyawan yaitu setiap 140 ekor ternak domba dibutuhkan satu orang karyawan untuk memeliharanya dengan gaji menurut UMK sebesar Rp. 2.500.000,00-/bulan/karyawan. Jumlah karyawan yang dibutuhkan pada tahun pertama pemeliharaan ternak domba sebanyak 301 orang tahun kedua karyawan yang dibutuhkan sebanyak 776 orang tahun ketiga karyawan yang dibutuhkan sebanyak 2.092 orang, tahun keempat karyawan yang dibutuhkan sebanyak 2.135. jadi selama empat tahun pemeliharaan membutuhkan karyawan sebanyak 2.135 orang.

c.6 Penjualan ternak jantan.

            Perhitungan penjualan ternak jantan yaitu saat ternak domba jantan sudah memasuki sampai dewasa tubuh ternak jantan dijual sebanyak 90% dari kelahiran dan 10% sisanya ternak jantan dijadikan sebagai indukan pejantan untuk dipelihara. Harga satu ekor ternak jantan dewasa siap jual sebesar Rp. 800.000,00.-. Pada tahun pertama  ternak jantan belum ada yang dijual karena anakan G0 yaitu G1 belum dewasa tubuh baik yang betina maupun yang jantan. tahun kedua penjualan ternak jantan pada bulan Februari sebanyak 13.014 ekor dan Oktober sebanyak 13.014  jadi jumlah penjualan pada tahun kedua sebanyak 26.028 ekor, dan mendapatkan pemasukkan biaya Rp. 20.822.400.000,00.-.
Tahun ketiga ternak jantan yang dijual pada bulan Februari ternak jantan dewasa dijual sebanyak 15.617, Juni sebanyak 13.014 ekor dan Oktober sebanyak 31.234 ekor, jadi jumlah penjualan pada tahun ketiga sebanyak 59.864 ekor, dan mendapatkan pemasukkan biaya Rp. 47.891.200.000,00.-. Tahun keempat ternak jantan yang dijual pada bulan Februari ternak jantan dewasa dijual sebanyak 13.014 ekor, bulan Maret ternak jantan dewasa dijual sebanyak 18.740 ekor, bulan Juni ternak jantan dewasa dijual sebanyak 46.850, bulan Oktober ternak jantan dewasa dijual sebanyak 13.014 dan penjualan ternak jantan dewasa terakhir pada tahun keempat terakhir pemeliharaan sebanyak 56.220, jadi jumlah penjualan pada tahun keempat sebanyak 147.839 ekor dan mendapatkan pemasukkan biaya Rp. 369.597.500.000,00.- Total penjualan ternak jantan dari tahun pertama sampai tahun keempat sebanyak 233.731 ekor mendapatkan penghasilan total keseluruhan dalam penjualan ternak sebanyak Rp. 438.311.100.00,00.-.

c.7 Perhitungan kebutuhan kandang.

            Pembangunan kandang dilakukan saat penambahan jumlah populasi atau kelahiran anak, ternak membutuhkan luas kandang 4 m2/ekor. Harga pengeluaran biaya kandang Rp. 400.000,00.-/ m2 sudah termasuk material dan gaji tukang. Ternak yang dijual sudah tidak membutuhkan kandang lagi, tetapi bekas kandang kosong dari ternak jantan dewasa yang sudah dijual dapat digunakan kembali oleh ternak baru untuk proses pemeliharaan sampai dewasa tubuh dan dijual.

c.8  Perhitungan Ekonomi Usaha.

c.8.1 Populasi

Untuk harga domba betina Rp. 750.000.00,- dan harga domba jantan Rp. 800.000,00,- dengan hal ini aspek pengeluaran untuk pembeliaan bibit sebanyak 13.255 ekor ialah Rp. 10.001.500.000,00.- Didapatkan jumlah uang penjualan ternak jantan dewasa seluruhnya ditahun kedua dari jumlah ternak 26.028 ekor x Rp. 800.000.00,- = Rp. 20.822.400.000,00.- Didapatkan jumlah uang penjualan ternak jantan dewasa seluruhnya ditahun ketiga dari jumlah ternak 59.864 ekor x Rp. 800.000.00,- = Rp. 47.891.200.000,00.- Didapatkan jumlah uang penjualan ternak jantan dewasa seluruhnya ditahun keempat dari jumlah ternak 147.839 ekor x Rp. 800.000.00,- = Rp. 269.597.500.000,00.-  jadi jumlah seluruh ternak jantan dewasa yang dijual selama empat tahun pemeliharaan sebanyak 233.731 ekor dengan jumlah asumsi biaya yang didapatkan dari jumlah seluruh penjualan ternak selama empat tahun pemeliharaan sebanyak Rp. 438.311.100.000,00.-

c.8.2 kebutuhan HPT dan konsentrat, kebutuhan lahan untuk HPT.

Untuk asumsi pengeluaran biaya pakan konsentrat yaitu sebesar Rp. 2.000.00,-/kg. Dengan biaya yang harus dikeluarkan untuk pembelian pakan konsentrat selama 4 tahun pemeliharaan yaitu sebesar Rp. 81.713.344.320,00.- Harga lahan yang harus dikeluarkan pada tahun pertama pemeliharaan ternak domba untuk kebutuhan penanaman HPT sebanyak Rp. 11.205.054.000,00.-. tahun ke dua sebesar Rp. 23.589.176.400,00.-. Tahun ke tiga sebesar Rp. 53.314.974.360,00.- dan tahun keempat pemeliharan untuk asumsi pengeluaran biaya sebesar Rp. 99.452.467.440,00-. Jadi jumlah asumsi yang dikeluarkan selama empat tahun pemeliharan untuk menanam HPT dengan total luas 125.041.115 m2 biaya sebesar Rp. 187.561.672.200,00-.

c.8.3 Produksi kompos.

produksi kompos yaitu sebanyak 5% dari berat badan ternak/ hari dengan harga kompos Rp. 1.500,00.-/kg. Jumlah tahun pertama asumsi pemasukkan biaya sebesar yang didapat Rp. 596.475.000,00.- jumlah tahun kedua asumsi pemasukkan biaya yang didapat sebesar Rp. 1.318.752.000,00.- jumlah tahun ketiga asumsi pemasukkan biaya yang didapat sebesar Rp. 3.053.518.500,00.- dan jumlah penjualan produksi kompos pada tahun keempat sebanyak Rp. 5.245.423.500,00.- dengan jumlah hasil produksi kompos yang dihasilkan selama pemeliharaan ternak domba selama 4 tahun dengan asumsi pemasukkan pada penjualan produksi kompos sebesar Rp. 10.214.169.000,00.-.

c.8.4 Obat-obatan.

obat-obatan yaitu sebanyak Rp. 8.000,00.-/ekor/tahun. Jumlah tahun pertama pemeliharaan untuk pembelian obat-obatan sebanyak Rp. 212. 080.000,00.- ditahun kedua biaya yang dikeluarkan sebesar Rp. 694.080.000,00.- ditahun ketiga biaya yang dikeluarkan sebesar Rp. 1.804.608.000,00.- dan ditahun keempat pemeliharaan ternak domba untuk pembeliaan obat-obatan sebanyak Rp. 1.119.782.400,00.- dengan total jumlah perhitungan pembelian obat-obatan pemeliharaan selama empat tahun sebanyak Rp. 3.830.550.400,00.-.

c.8.5 kebutuhan karyawan.

            Gaji karyawan yang dibutuhkan pada tahun pertama pemeliharaan ternak domba sebanyak Rp. 752.500.000,00.-, tahun kedua pengeluaran untuk gaji karyawan sebesar Rp. 1.940.000.00,00.- tahun ketiga pengeluaran untuk gaji karyawan sebesar Rp. 5.230.000.000,00.-, tahun pengeluaran untuk keempat gaji karyawan sebesar Rp. 5.337.500.000,00.- jumlah gaji yang dikeluarkan untuk karyawan selama empat tahun pemeliharaan sebesar Rp. 13.260.000.000,00-.

c.8.6 Penjualan ternak jantan.

            jumlah penjualan pada tahun kedua sebanyak 26.028 ekor, dan mendapatkan pemasukkan biaya Rp.20.822.400.000,00.-.Tahun ketiga penjualan ternak jantan mendapatkan pemasukkan biaya Rp. 47.891.200.000,00.-. Tahun keempat ternak jantan yang dijual mendapatkan pemasukkan biaya Rp. 369.597.500.000,00.- Total penjualan ternak jantan dari tahun pertama sampai tahun keempat sebanyak 233.731 ekor mendapatkan penghasilan total keseluruhan dalam penjualan ternak sebanyak Rp. 438.311.100.00,00.-

c.8.7 kebutuhan kandang.

            kebutuhan kandang untuk ternak domba selama 4 tahun membutuhkan kandang 298.927 dengan luas 1.195.708 m2. Dengan harga pembangun selama pemeliharaan empat tahun asumsi biaya pengeluaran sebanyak Rp. 478.283.200.000,00.-













D. PEMBAHASAN


Setelah beternak domba selama empat tahun si peternak mengalami kerugian, karena setiap bertambahnya populasi ternak domba juga bertambahnya biaya pengeluaran seperti biaya untuk lahan HPT, biaya kosentrat, biaya obat-obatan, biaya gaji karyawan dan biaya lahan untuk kandang serta biaya pembuatan kandang sedangkan dana pemasukan hanya mengandalkan penjualan kompos dan ternak jantan dewasa per kelahiran. Walaupun sipeternak mengalami kerugian dalam bentuk rupiah tetapi si peternak mendapatkan hak milik seperti lahan untuk HPT, kandang serta seluruh domba yang belum dijual, hal tersebutlah yang menyebabkan sipeternak mengalami kerugian. Untuk tahun berikutnya si peternak akan mengalami keuntungan secara bertahap apalagi si peternak juga menjual dalam bentuk lain seperti woll.
Kebutuhan zat makanan domba jumlah pakan yang dikonsumsi oleh ternak harus disesuaikan dengan kebutuhan ternak tersebut Jumlah dan kualitas pakan merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi produktivitas ternak. Kebutuhan nutrisi oleh ternak bervariasi sesuai dengan jenis dan umur fisiologis yang berbeda. Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi kebutuhan nutrisi ternak antara lain adalah jenis kelamin, tingkat produksi, keadaan lingkungan dan aktivitas fisik (Haryanto, 1992). Kebutuhan nutrisi ternak dikelompokkan menjadi komponen utama yaitu energi, protein, mineral dan vitamin. Komponen-komponen utama tersebut diperoleh dari zat makanan yang masuk kedalam tubuh ternak. Konsumsi ruminansia dipengaruhi oleh jenis pakan, usia, bobot badan, jenis kelamin, suhu, manajemen dan kandungan nutrisi, (Arora, 1989).
Menurut Anggorodi (1990) energi adalah salah satu komponen yang penting dalam pakan untuk pertumbuhan. Energi ini digunakan untuk hidup pokok, pertumbuhan, gerak otot dan sintesa jaringan baru. Ternak membutuhkan energi untuk memenuhi kebutuhan hidup pokok dan kebutuhan untuk produksi serta kebutuhan reproduksi (Anggorodi, 1990). kebutuhan pokok adalah kebutuhan zat-zat makanan untuk memenuhi proses hidup saja seperti menjaga fungsi tubuh tanpa adanya suatu kegiatan dan produksi, sedangkan kebutuhan produksi adalah kebutuhan zat nutrisi untuk pertumbuhan, kebuntingan, produksi susu dan kerja.
Protein merupakan senyawa kimia yang tersusun atas asam-asam amino. Protein merupakan unsur penting dalam tubuh ternak dan diperlukan terus-menerus untuk memperbaiki sel dalam proses sintesis. Protein berfungsi sebagai zat pembangun karena protein merupakan bahan pembentuk jaringan-jaringan baru yang terjadi dalam tubuh, protein digunakan sebagai bahan bakar jika kebutuhan energi tubuh tidak terpenuhi oleh karbohidrat dan lemak. Kebutuhan ternak akan protein biasanya disebutkan dalam bentuk protein kasar, sebagian besar protein kasar yang diperlukan oleh ternak dapat dipenuhi dalam bentuk Non Protein Nitrogen (NPN) seperti urea, tetapi sebagian lagi dipenuhi dalam bentuk protein yang sebenarnya. Kebutuhan protein domba dipengaruhi oleh masa pertumbuhan, umur, fisiologis, ukuran dewasa, kebuntingan, laktasi, kondisi tubuh dan rasio energi protein (Ensminger, 1993).
Kebutuhan Domba Fase Pertumbuhan penampilan seekor ternak merupakan hasil dari suatu proses pertumbuhan dan perkembangan yang berkesinambungan tanpa berhenti dalam seluruh hidup ternak tersebut, yang pada setiap komponen tubuh mempunyai kecepatan pertumbuhan dan perkembangan yang berbeda tergantung lingkungan. Pertumbuhan umumnya dinyatakan dengan pengukuran kenaikan berat badan dan tinggi. Menurut Anggorodi (1990), pertumbuhan murni mencakup pertumbuhan dalam bentuk dan berat jaringan-jaringan pembangun seperti urat daging, tulang, jantung, otak dan semua jaringan-jaringan tubuh lainnya (kecuali jaringan lemak) dan alat-alat tubuh. Pertumbuhan adalah peningkatan berat badan hidup seekor ternak sampai mencapai berat tertentu sesuai dengan kemasakan tubuhnya. Pertumbuhan selanjutnya didefinisikan sebagai perubahan ukuran yang meliputi perubahan bobot hidup, bentuk dimensi linier dan komposisi tubuh termasuk perubahaan organ-organ dan jaringan tersebut berlangsung secara gradual hingga tercapai ukuran dan bentuk karakteristik masing-masing organ dan jaringan tersebut. Pertumbuhan sangat dipengaruhi oleh kualitas dan kuantitas ransum yang diberikan. Jumlah pakan yang diberikan pada ternak sehari-hari harus lebih banyak dari kebutuhan hidup pokok agar ternak tidak mengalami kesulitan produksi. Kebutuhan bahan kering untuk domba fase pertumbuhan atau dengan bobot badan sekitar 15-25 kg adalah 3% dari bobot badannya atau sekitar 400-500g/ekor/hari (Arora, S. P. 1989).
Faktor yang mempengaruhi laju pertumbuhan adalah genetik dan lingkungan. Salah satu faktor lingkungan adalah pakan, pakan sangat berperan penting dalam masa pertumbuhan seekor domba. Status fisiologis yang berbeda menyebabkan kebutuhan zat makanan domba berbeda. Kandungan zat makanan untuk domba pada periode pertumbuhan adalah 55% TDN, 9,5% PK, 0,20% Ca dan 0,18% P (NRC, 2006). Kebutuhan bahan kering untuk domba fase pertumbuhan atau dengan bobot badan sekitar 25-35 kg adalah 3% dari bobot badannya atau sekitar 500- 600g/ekor/hari.
Kebutuhan Domba BuntingPenampilan reproduksi domba dapat dipergunakan sebagai petunjuk kemampuan produktivitas ternak domba. Faktor-faktor yang mempengaruhi penampilan reproduksi adalah genetik dan lingkungan. Pakan merupakan salah satu faktor lingkungan yang sangat penting untuk induk bunting. Pengaruh negatif dari kekurangan pakan terhadap organ reproduksi pada domba muda dapat bersifat permanen (Thalib et al., 2001). Kebutuhan zat makanan untuk domba yang sedang bunting adalah 59% TDN, 9,5% protein, 0,33% Ca dan 0,16% P.
Pertumbuhan ternak dipengaruhi oleh faktor genetik, lingkungan dan interaksi keduanya. Faktor genetik berhubungan dengan kecepatan dan sifat tumbuh yang diwariskan oleh tetuanya dan jenis ternak. Faktor lingkungan diantaranya adalah manajemen dan pakan (Church, 1991). Salah satu kriteria yang digunakan untuk mengukur perrtumbuhan adalah dengan pengukuran bobot badan. Pertambahan bobot badan adalah kemampuan ternak untuk mengubah zat-zat makanan yang terdapat dalam pakan menjadi produk. Pertambahan bobot badan merupakan salah satu peubah yang dapat digunakan untuk menilai kualitas bahan makanan ternak. Dari data pertumbuhan bobot badan akan diketahui nilai suatu zat makanan dari suatu ternak (Church dan Pond, 1988). kecepatan pertumbuhan tergantung dari spesies, jenis kelamin, umur dan keseimbangan zat-zat nutrisi dalam pakan, semakin baik kualitas pakan yang dikonsumsi ternak akan diikuti dengan pertambahan bobot badan yang lebih tinggi. Menurut pertambahan bobot badan harian domba sekitar 100 g/ekor/hari, pertambahan bobot badan harian domba untuk daerah tropis adalah 70 g/ekor/hari, sementara hasil penelitian dari pertambahan bobot badan untuk domba lokal Jonggol adalah 47 g/ekor/hari dan hasil penelitian pertambahan bobot badan domba lokal Jonggol yang sedang bunting adalah 69 g/ ekor/hari.
Konversi pakan merupakan jumlah pakan yang dikonsumsi untuk mendapatkan kenaikan satu satuan bobot hidup (Church, 1991). Konversi pakan digunakan untuk mengetahui efisiensi produksi karena erat kaitannya dengan biaya produksi. Semakin rendah nilai konversi pakan maka efesiensi penggunaan pakan semakin tinggi. pertumbuhan yang baik belum tentu menjamin keuntungan maksimal, tetapi pertumbuhan yang baik disertai biaya ransum yang minimum akan mendapatkan keuntungan maksimal. konversi pakan domba sekitar 5,74, konversi pakan domba untuk daerah tropis adalah 7,7. (Church, D. C & W. G. Pond. 1988).
Efisiensi dari penggunaan pakan termasuk dalam program pemberian pakan yang diukur dari konversi pakan atas bobot badan hidup domba. Konversi pakan adalah jumlah pakan yang dikonsumsi untuk mendapatkan bobot badan tertentu dalam waktu yang ditentukan. Konversi pakan ditentukan berdasarkan beberapa faktor yaitu suhu lingkungan, potensi genetik, nutrisi pakan, kandungan energi dan penyakit. Konversi pakan juga dipengaruhi oleh jumlah pakan yang dikonsumsi, bobot badan, gerak atau aktivitas tubuh, musim dan suhu dalam kandang. Kualitas pakan yang dikonsumsi oleh ternak semakin baik maka semakin efisien dalam penggunaan pakan (Dimsoski, P., J. Tosh, J. C. Clay & K. M. Irvin. 1999).
Energi adalah salah satu komponen yang penting dalam pakan untuk pertumbuhan. Energi ini digunakan untuk hidup pokok, pertumbuhan, gerak otot dan sintesa jaringan baru. Ternak membutuhkan energi untuk memenuhi kebutuhan hidup pokok dan kebutuhan untuk produksi serta kebutuhan reproduksi, kebutuhan ini tergantung dari proses fisiologis ternak (Anggorodi, 1990). Kebutuhan energi ternak untuk hidup pokok adalah jumlah energi dalam pakan yang harus dikonsumsi setiap hari bukan untuk mendapat ataupun kehilangan energi tubuh, energi tersebut digunakan untuk memelihara dan mempertahankan keutuhan tubuhnya. Kebutuhan untuk produksi dan reproduksi adalah energi di atas kebutuhan hidup pokok yang dimanfaatkan untuk proses-proses produksi dan reproduksi Ensminger (1993) menyatakan bahwa kekurangan energi merupakan masalah defisiensi nutrisi yang umum terjadi pada domba, yang dapat disebabkan oleh kekurangan pakan atau mengkonsumsi pakan dengan kualitas yang rendah.8 (Blakely, J. & D. H. Bade, 1994).
Bahan pakan sumber protein yang biasa digunakan untuk ternak ruminansia adalah bungkil kelapa. Bungkil kelapa merupakan limbah industri minyak kelapa yang dapat dimanfaatkan ternak. Kualitas bungkil kelapa bervariasi tergantung pada cara pengolahan dan kualitas bahan baku. Berdasarkan komposisi kimianya, bungkil kelapa termasuk sumber protein untuk ternak, kandungan protein dari bungkil kelapa mencapai 21,3 % (Gattenby, R. M. 1995).
Sifat produksi dan reproduksi pada ternak dipengaruhi oleh faktor genetik dan lingkungan. Diperkirakan terdapat 9.514.184 ekor domba di Indonesia pada tahun 2007 yang sebagian besar berada di pulau Jawa dan merupakan peternakan rakyat (Ditjen Peternakan, 2008). Tingkat mortalitas yang tinggi akibat pengelolaan, kurang cermatnya deteksi berahi atau waktu perkawinan yang tidak tepat, pemotongan ternak yang semakin meningkat dan kurangnya perhatian terhadap segi pemuliaan merupakan masalah yang berkaitan dengan rendahnya peningkatan populasi ternak di Indonesia. Penggunaan bibit yang baik, tidak memotong induk yang masih produktif dan menerapkan sistem manajemen pemeliharaan yang lebih baik dan efesien serta peningkatan usaha pengendalian penyakit merupakan usaha yang sangat diperlukan dalam mempertahankan dan meningkatkan populasi ternak di Indonesia.
Reproduksi merupakan suatu proses perkembangbiakan suatu mahluk hidup, dimulai sejak bersatunya sel telur dengan sel sperma. Hasil penggabungan kedua sel ini membentuk zigot. Zigot ini akan terus berkembang selama kebuntingan dan diakhiri dengan kelahiran anak. Faktor-faktor yang mempengaruhi proses reproduksi adalah jarak antar beranak, jarak antar melahirkan sampai bunting kembali, angka kebuntingan, rataan jumlah kebuntingan per perkawinan (Dihardjo, 1995). jenis domba di Indonesia pada umumnya mempunyai sifat reproduksi yang baik, hal ini terlihat pada frekuensi melahirkan dan tingkat kelahiran kembar yang tinggi, serta adaptasi yang baik (Diharjo, P. S. 1995).
Pada jenis-jenis ternak tertentu, awal reproduksi pada ternak betina ditandai dengan munculnya tanda-tanda berahi yang biasa terjadi pada musim kawin. Pada ternak domba musim kawin sangat dipengaruhi oleh tempat domba dipelihara, misalnya musim kawin domba-domba subtropik bersifat seasonal breeder, sedangkan untuk domba-domba yang berada di daerah tropik, sifatnya continous breeder (Hafez, 1993).
Proses reproduksi baik untuk jantan maupun betina ditandai dengan kemampuannya memproduksi benih pertama kali (masa pubertas). Ciri-ciri ternak yang sedang berahi adalah terlihat tingkah laku menggesekkan badannya pada pejantan, mengibas-ngibaskan ekornya, sering urinasi dan siap menerima pejantan untuk kopulasi yaitu tidak memperlihatkan pemberontakan pada saat dinaiki. Dewasa kelamin pada domba dapat tercapai pada umur 6-8 bulan dengan kondisi makanan yang baik atau berdasarkan berat badan, dewasa kelamin tercapai ketika domba mencapai berat badan sekitar 50%-70% dari berat badan dewasa (Hafez, 1993).
Siklus berahi merupakan jarak waktu berahi periode pertama dengan berahi periode berikutnya. Jarak berahi terjadi sekitar 11-19 hari dengan rata-rata 16,7 hari. Siklus berahi terbagi menjadi empat fase yaitu fase proestrus, fase estrus, fasemetestrus dan fase diestrus, faktor-faktor yang mempengaruhi siklus berahi secara umum diantaranya adalah umur ternak, bangsa, perubahan panjang siang dan panjang malam hari, suhu lingkungan, kualitas makanan dan kehadiran pejantan (Devendra, C. & G. B. Mcleroy. 1982).
Kebuntingan merupakan suatu interval atau waktu antara setelah terjadinya fertilisasi sampai dengan kelahiran (Partus) Lama kebuntingan pada ternak berbeda-beda. Demikian halnya umur kebuntingan domba juga berbeda tergantung dari bangsa, pemberian pakan, kondisi lingkungan, kandang dan manajemen pemeliharaan dari domba tersebut, umur kebuntingan domba sekitar 144-155 hari. kebuntingan dimulai pada saat terjadinya fertilisasi dan diakhiri pada waktu kelahiran, lama kebuntingan dipengaruhi oleh genetik walaupun dapat juga dipengaruhi oleh faktor-faktor maternal, foetal dan lingkungan.


E. PENUTUP

e.1 Kesimpulan

selama pemeliharaan empat tahun sipeternak mengalami kerugian berupa nilai rupiah tetapi si peternak mendapatkan aset berupa kandang, lahan HPT

e.2 saran

1.      Setiap 160 ekor domba dipelihara oleh 1 karyawan
2.      Gaji karyawan menggunakan sistem UMR daerah.



















DAFTAR PUSTAKA


Anggorodi. 1990. Ilmu Makanan Ternak Umum. PT Gramedia, Jakarta.
Arora, S. P. 1989. Pencernaan Mikroba pada Ruminansia. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.
Badan Pusat Statistik. 2008. Statistik Pertanian. Pusat Data dan Informasi Pertanian. Departemen Pertanian, Jakarta.
Blakely, J. & D. H. Bade, 1994. Ilmu Peternakan. Edisi Ke-4. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.
Church, D. C & W. G. Pond. 1988. Basic Animal and Feeding. John Willey and Son. New York, Singapore.
Church, D. C. 1991. Digestive Physiologi and Nutrition of Ruminants. Oregon State University Press, Carvallis, Oregon.
Devendra, C. & G. B. Mcleroy. 1982. Goat and Sheep Production in The Tropics. 1stEdition. Oxford University Press. Oxford.
Diharjo, P. S. 1995. Ilmu Reproduksi Hewan. Mutiara. Jakarta.
Dimsoski, P., J. Tosh, J. C. Clay & K. M. Irvin. 1999. Influence of management system on litter size, lamb growth and carcass charateristics in sheep. J. Anim. Sci. 77 : 1037-1043.
Direktorat Jendral Bina Produksi Peternakan. 2008. Statistik Peternakan. Direktorat Jendral Bina Produksi Peternakan, Departemen Pertanian, Jakarta.
Ensminger, M. L. 1993. Feed and Nutrition 2nd Edition. The Ensminger Publishing. Company, California.
Gattenby, R. M. 1991. Sheep Production in the Tropic and Sub-Tropic. Tropical Agriculture Series. London.
Gattenby, R. M. 1995. Sheep. University of Edinburg. England.
Hafez, E. S. E. 1993. Hormones Growth Factors and Reproduction. In: E. S. E. Hafes (Editor) Reproduction Animals. 6th Edition. Lea and Febriger, Philadelphia.

 

L

A

M

P

I

R

A

N






Program Pencegahan Penyakit Unggas